
Bermain menjadi bagian penting dalam proses belajar anak karena memberi kesempatan untuk mencoba dan menemukan hal baru. Saat bermain, anak dapat bereksperimen, mengenali kesalahan, dan mencari cara untuk menyelesaikan tantangan. Pengalaman ini dapat menjadi awal untuk mengenalkan STEM yang sering dianggap rumit dan hanya berkaitan dengan pelajaran formal.
Salah satu sarana yang dapat digunakan adalah STEM toys atau mainan STEM. Mainan ini dirancang atau dimanfaatkan untuk mengenalkan konsep Science, Technology, Engineering, dan Mathematics melalui aktivitas bermain. Anak diajak membangun, mengamati, dan menguji ide agar dapat memahami konsep tersebut melalui pengalaman langsung.
Mainan STEM untuk anak tidak harus berupa perangkat elektronik atau robot yang mahal. Balok konstruksi, puzzle, permainan magnet, hingga bahan sederhana di rumah dapat digunakan untuk melatih keterampilan STEM. Aktivitas coding yang dikemas sebagai permainan juga bisa menjadi pilihan sesuai usia dan kemampuan anak.
Apa saja rekomendasi mainan anak untuk pembelajaran STEM? Simak pembahasannya berikut, yuk!
Apa Itu Mainan STEM?
Mainan anak untuk pembelajaran STEM mendorong anak mengeksplorasi konsep sains, teknologi, engineering, dan matematika melalui aktivitas praktis. Mainan tersebut dapat dirancang khusus untuk pembelajaran atau berupa mainan sehari-hari yang digunakan dengan tantangan tertentu. Nilai belajarnya terletak pada kesempatan anak untuk aktif mencoba dan memahami cara kerja sesuatu.
Banyak permainan STEM memberi anak kesempatan untuk mencoba lebih dari satu cara. Mereka bebas mengembangkan ide, melakukan percobaan, dan memperbaiki hasil yang belum sesuai harapan. Proses ini melatih problem solving karena anak perlu mencari penyebab masalah serta mempertimbangkan solusi yang dapat dicoba.
Kegiatan bermain juga memberi kesempatan kepada anak untuk menghasilkan sesuatu, seperti bangunan, pola, atau permainan digital sederhana. Saat menyusun langkah dan membagi tantangan menjadi bagian kecil, mereka mulai berlatih berpikir komputasional atau computational thinking. Dengan menyesuaikan tantangan terhadap minat dan kemampuan anak, mainan yang sama dapat digunakan kembali untuk mengeksplorasi ide yang berbeda.
Apa Manfaat Mainan STEM untuk Anak?
Saat bermain, anak dapat mempelajari banyak hal dari tantangan yang mereka hadapi dan cara mereka menyelesaikannya. Mainan STEM menyediakan kesempatan tersebut melalui kegiatan yang melibatkan rasa ingin tahu, pemikiran, dan keterampilan anak secara langsung.
1. Melatih Problem Solving
Bermain dengan mainan STEM sejak dini memberi anak kesempatan untuk melatih kemampuan problem solving. Saat menghadapi tantangan, mereka belajar mencoba cara yang berbeda dan mencari solusi berdasarkan hasil percobaannya. Proses ini membantu anak berpikir lebih fleksibel sekaligus membangun ketekunan ketika solusi pertama belum berhasil.
2. Mengembangkan Kreativitas
Mainan edukatif anak memberikan mereka ruang untuk berpikir kreatif dan mencoba gagasan di luar contoh yang diberikan. Saat bermain, mereka dapat menggunakan konsep STEM untuk mengembangkan ide sendiri dan mengujinya menjadi sebuah karya. Kreativitas anak terus dilatih ketika mereka memperbaiki rancangan, bertukar ide dengan teman, dan menjelaskan hasil karyanya.
3. Melatih Logika
Kemampuan berpikir logis anak dapat diasah melalui permainan STEM yang sesuai dengan tahap perkembangannya. Saat bermain, anak belajar mengenali pola, memahami hubungan sebab-akibat, dan menyusun langkah untuk mencapai tujuan. Pengalaman ini membantu mereka menggunakan hasil pengamatan sebagai dasar untuk menentukan langkah berikutnya.
4. Mengenalkan Konsep Sains dan Matematika
Mainan edukasi STEM mengenalkan konsep sains dan matematika melalui pengalaman bermain yang menyenangkan. Anak dapat memahami ukuran, bentuk, keseimbangan, dan gerak dengan mengamati serta mencoba langsung. Konsep yang semula terasa abstrak menjadi lebih mudah dipahami karena anak melihat penerapannya dalam permainan.
5. Melatih Ketekunan
Bermain dengan mainan STEM memberi anak kesempatan untuk melatih ketekunan ketika menghadapi tantangan. Saat percobaan belum berhasil, mereka belajar mencari bagian yang perlu diperbaiki dan mencoba kembali dengan cara berbeda. Dengan pendampingan, anak dapat memahami bahwa kegagalan memberi petunjuk untuk melanjutkan usaha, bukan alasan untuk berhenti.
6. Mendorong Anak Menjadi Pencipta
Mainan STEM anak membantu mereka mewujudkan ide melalui kegiatan merakit, membangun, dan bereksperimen. Dengan mengamati cara kerja setiap bagian, mereka belajar menggunakan konsep STEM untuk membuat karya sesuai imajinasinya. Karya tersebut tidak harus sepenuhnya baru, tetapi dapat berupa pengembangan dari mainan yang sudah ada agar memiliki bentuk atau fungsi berbeda.
7 Rekomendasi Mainan Anak untuk Pembelajaran STEM
Berbagai jenis mainan STEM untuk anak dapat dilakukan melalui kegiatan menyusun, merakit, dan bereksperimen. Berikut beberapa pilihan mainan beserta aktivitas yang bisa disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.
1. Balok Konstruksi
Balok konstruksi, seperti LEGO atau balok kayu warna-warni, dapat mengenalkan konsep teknik dan matematika melalui kegiatan membangun. Anak bisa menyusunnya menjadi gedung, jembatan, kendaraan, atau bentuk lain sesuai imajinasi mereka. Saat bermain, anak belajar mengenali bentuk, membandingkan ukuran, dan mengatur posisi balok agar bangunannya berdiri kokoh.
2. Magnetic Building Blocks
Magnetic building blocks merupakan mainan bongkar pasang dengan magnet yang menghubungkan setiap bagiannya. Anak dapat menyusun kepingan menjadi berbagai bentuk sambil mengenali pola dan geometri dalam matematika. Ketika mencoba membuat susunan yang seimbang dan kokoh, mereka juga mulai mempelajari dasar konstruksi dalam bidang teknik.
3. Puzzle dan Logic Games
Mainan puzzle dan logic games mengajak anak menggunakan logika untuk mengenali pola, menyusun strategi, dan memecahkan masalah. Misalnya, anak perlu mencocokkan bentuk kepingan atau menentukan urutan angka agar dapat menyelesaikan permainan. Kegiatan ini mengenalkan konsep matematika sekaligus melatih pemikiran komputasional, yaitu memecah masalah menjadi langkah-langkah kecil yang lebih mudah dikerjakan.
4. Science Experiment Kits
Science experiment kits menyediakan alat dan bahan untuk mengenalkan sains melalui percobaan langsung. Dengan pendampingan orang dewasa, anak dapat mencoba eksperimen magnet, rangkaian listrik sederhana, atau reaksi kimia menggunakan bahan yang aman dan sesuai usia. Anak diajak mengamati prosesnya, memperkirakan hasil, lalu melihat apa yang terjadi untuk belajar tentang hubungan sebab-akibat.
5. Robotik Kit
Dengan robotik kit, anak dikenalkan dengan teknologi, teknik, dan matematika melalui kegiatan merakit. Bergantung pada kelengkapan kit, anak dapat memasang motor dan sensor, lalu memberikan instruksi melalui coding agar robot bergerak atau merespons sesuatu. Mereka belajar memahami fungsi komponen, menyusun urutan gerakan, serta mengatur jarak atau arah.
6. Coding Games dan Coding Toys
Coding games dan coding toys mengenalkan cara menyusun instruksi agar suatu tindakan berjalan sesuai tujuan. Anak belajar tentang urutan, pola, logika, dan algoritma, yaitu langkah-langkah untuk menyelesaikan tugas. Untuk anak yang lebih kecil, kegiatan bisa dimulai dengan coding tanpa komputer, seperti menyusun kartu arah untuk memandu mainan menuju tujuan. Sesuai kesiapan anak, pembelajaran dapat dilanjutkan melalui platform visual seperti ScratchJr atau Scratch untuk membuat cerita, animasi, dan permainan sederhana.
7. 3D Building dan Modeling Toys
Bermain 3D building dan modeling toys mengajak anak membuat model tiga dimensi, seperti rumah, kendaraan, atau objek lainnya. Saat merakit dan menyusun ulang komponen, anak belajar tentang desain, bentuk, ruang, dan struktur yang berkaitan dengan teknik serta matematika. Mereka juga berlatih membayangkan tampilan benda dari berbagai sisi sebelum mewujudkannya menjadi model.
Rekomendasi Mainan STEM Berdasarkan Usia
Usia dapat menjadi panduan awal dalam memilih mainan STEM untuk anak, tetapi minat dan kemampuan setiap anak juga perlu diperhatikan. Sesuaikan tingkat kesulitan mainan agar anak tertantang mencoba hal baru tanpa merasa kewalahan.
a. Usia 3–5 Tahun
Pada usia ini, anak dapat dikenalkan dengan puzzle sederhana, balok, serta permainan bentuk dan pola. Mencocokkan kepingan atau mengelompokkan benda membantu mereka mengenali persamaan, perbedaan, dan urutan. Mainan konstruksi sederhana juga mengajak anak mengeksplorasi ruang dan bentuk saat membuat rumah, menara, atau kreasi lainnya.
b. Usia 6–8 Tahun
Set konstruksi, permainan logika, dan eksperimen sains sederhana memberi anak pada usia ini kesempatan untuk mencoba ide serta mengamati hasilnya. Mereka bisa merakit kendaraan, menyelesaikan teka-teki, atau mencari tahu benda apa saja yang dapat ditarik magnet. Coding toys dan perangkat robotik dasar juga dapat digunakan untuk mengenalkan urutan instruksi, misalnya mengarahkan robot melewati jalur tertentu.
c. Usia 9–12 Tahun
Anak usia 9–12 tahun dapat mencoba set konstruksi yang lebih rumit, robotik, coding, dan eksperimen sains dengan beberapa tahap pengerjaan. Kegiatan ini mengajak mereka merencanakan langkah, menguji hasil, lalu memperbaiki bagian yang belum sesuai. Desain tiga dimensi juga bisa diperkenalkan melalui aplikasi sederhana untuk membuat model benda berdasarkan bentuk dan ukuran yang mereka tentukan.
d. Usia 13 Tahun ke Atas
Pilihan kegiatan STEM untuk usia 13 tahun ke atas dapat mencakup perakitan elektronik, robotik, dan pemrograman dengan tantangan yang lebih kompleks. Anak dapat mencoba menghubungkan sensor, merangkai komponen, serta menulis kode agar perangkat bekerja sesuai tujuan. 3D modelling dan engineering project juga memberi ruang untuk merancang solusi, seperti membuat model jembatan atau alat penyiram tanaman otomatis.
Apakah Mainan STEM Harus Mahal?
Mainan STEM tidak harus mahal untuk membantu anak belajar. Benda sederhana di sekitar rumah pun bisa digunakan untuk mengenalkan sains, teknologi, teknik, dan matematika. Yang lebih penting adalah cara anak bermain dan mengeksplorasi, bukan harga mainannya.
Misalnya, anak dapat membuat jembatan dari stik es krim atau menara dari sedotan. Saat mencoba membuat bangunannya kokoh, mereka belajar memahami cara kerja struktur dan mencari solusi ketika susunannya roboh. Proses mencoba dan memperbaiki ini dapat mengasah kemampuan berpikir sekaligus membangun kepercayaan diri untuk menghadapi tantangan baru.
Kegiatan lain yang bisa dilakukan adalah mengukur benda di rumah serta membuat pesawat kertas dan membandingkan jarak terbangnya. Membuat labirin sederhana dan permainan pola juga mengajak anak menyusun strategi, mengenali urutan, serta menggunakan kreativitasnya. Jika dilakukan bersama teman atau keluarga, kegiatan tersebut memberi kesempatan untuk berkomunikasi dan bekerja sama.
Dasar-dasar STEM dapat dikenalkan melalui kegiatan sederhana tanpa perangkat digital atau internet. Orang tua bisa mendampingi dengan mengajak anak bertanya, memperkirakan hasil, dan menceritakan apa yang mereka temukan. Beri anak ruang untuk mencoba idenya sendiri agar rasa ingin tahunya terus berkembang.
Bagaimana Memilih Mainan STEM yang Tepat?
Mainan STEM anak yang tepat memberi anak tantangan yang sesuai sekaligus ruang untuk mencoba ide sendiri. Orang tua perlu mempertimbangkan hal-hal yang berkaitan dengan usia, minat, kemampuan, dan keamanannya untuk anak.
1. Sesuaikan dengan Usia
Jadikan usia sebagai panduan awal, lalu sesuaikan tingkat kesulitan mainan dengan kemampuan anak. Misalnya, untuk usia 3–5 tahun, balok dan puzzle sederhana dapat mengenalkan bentuk serta melatih anak mengikuti instruksi. Kemudian, anak usia 9–12 tahun dapat mencoba set konstruksi, robotik, atau eksperimen bertahap sesuai kesiapan mereka.
2. Sesuaikan dengan Minat Anak
Perhatikan kegiatan yang membuat anak penasaran dan betah bermain. Anak yang suka membangun dapat diajak mencoba set konstruksi, sedangkan yang gemar mencari tahu cara kerja benda mungkin tertarik pada perangkat eksperimen. Minat tersebut bisa menjadi pintu masuk untuk mengenalkan konsep STEM melalui kegiatan yang mereka nikmati.
3. Pilih Mainan yang Mendorong Eksplorasi
Cari mainan yang mengajak anak mengamati, mencoba, dan mencari tahu apa yang terjadi. Misalnya, perangkat eksperimen magnet memungkinkan mereka menguji berbagai benda dan membandingkan hasilnya. Sesuaikan tantangannya dengan kemampuan anak agar mereka tetap tertarik untuk bereksperimen.
4. Imbangi dengan Mainan yang Memiliki Banyak Cara Bermain
Utamakan mainan yang memberi ruang bagi beragam solusi, seperti balok untuk membuat berbagai bentuk bangunan. Anak dapat mencoba cara berbeda, menilai hasilnya, lalu mengembangkan idenya sendiri. Mainan dengan satu jawaban tetap bisa bermanfaat, tetapi imbangi dengan permainan terbuka untuk melatih kreativitas dan pemecahan masalah.
5. Utamakan Mainan yang Bisa Digunakan untuk Banyak Proyek
Pilih mainan yang komponennya dapat digunakan kembali untuk membuat karya berbeda. Satu set konstruksi, misalnya, bisa diubah dari rumah menjadi jembatan atau kendaraan. Pada permainan coding, anak dapat mengembangkan animasi, cerita interaktif, hingga game sederhana sesuai keterampilannya.
7. Perhatikan Keamanan
Periksa label usia, petunjuk penggunaan, serta bahan dan kondisi fisik mainan sebelum memberikannya kepada anak. Khusus untuk anak kecil, hindari komponen yang mudah lepas atau cukup kecil untuk tertelan, serta pastikan tidak ada sisi tajam. Dampingi anak saat bermain, terutama jika mainan menggunakan magnet, baterai, atau bahan eksperimen.
Belajar Coding sebagai Aktivitas STEM untuk Anak
Belajar coding dapat menjadi salah satu aktivitas STEM yang mengajak anak menggunakan teknologi untuk membuat sesuatu. Melalui kegiatan seperti membuat animasi atau game sederhana, anak belajar menerapkan logika sekaligus mencari solusi agar karyanya berjalan sesuai rencana.
Mengenalkan coding kepada anak tidak harus dimulai dengan bahasa pemrograman yang rumit. Anak dapat belajar menyusun urutan instruksi, mengenali pola, dan memahami hubungan sebab-akibat melalui coding visual. Kegiatan ini membantu mereka memecah masalah menjadi langkah-langkah kecil yang lebih mudah dikerjakan.
Neon Bit menjadi salah satu pilihan les coding anak dengan pendekatan project-based learning. Anak belajar melalui pembuatan karya, seperti game dan animasi, dengan materi yang disesuaikan dengan usia serta tingkat kemampuannya. Pembelajarannya mencakup coding visual, pengembangan game menggunakan Roblox Studio, hingga pengenalan kecerdasan buatan atau AI sesuai jenjang belajar.
Mainan atau Kelas STEM, Mana yang Lebih Baik?
Mainan dan kelas STEM sama-sama bermanfaat serta dapat saling melengkapi. Pilihannya bergantung pada tujuan belajar, anggaran, dan cara belajar yang membuat anak nyaman. Mainan STEM memberi anak ruang untuk mencoba berbagai ide di rumah dengan waktu yang fleksibel. Sementara itu, kelas STEM atau coding untuk anak menawarkan pendampingan dan alur belajar yang lebih terarah.
Mainan STEM:
- waktu bermain fleksibel;
- bisa digunakan untuk belajar di rumah;
- memberi kebebasan untuk bereksperimen;
- cocok untuk mengenalkan konsep STEM sejak awal.
Kelas STEM/coding:
- memiliki kurikulum sebagai panduan belajar;
- didampingi mentor yang membantu saat anak menemui kesulitan;
- materi dipelajari secara bertahap dan terarah;
- memberi kesempatan mengembangkan proyek yang lebih kompleks;
- perkembangan keterampilan anak dapat dipantau dan dievaluasi.
Neon Bit Kelas Coding Jogja Hadirkan Pembelajaran STEM untuk Anak
Saat memilih kelas coding anak di Jogja, orang tua perlu memperhatikan kesesuaian kurikulum dengan usia dan kemampuan anak. Salah satu yang dapat menjadi pilihan adalah Neon Bit, sekolah coding anak yang memperoleh kredensial STEM.org Accredited untuk Educational Experience. Dalam pembelajarannya, coding menjadi sarana untuk mengenalkan konsep STEM melalui kegiatan merancang, membuat, dan menguji hasil karya digital melalui proyek langsung.
Melalui pendekatan project-based learning, Neon Bit membimbing anak belajar coding dengan mengerjakan proyek secara langsung. Kegiatan ini memberi kesempatan untuk melatih computational thinking, kreativitas, kemandirian, serta keterampilan problem solving.
Pembelajaran coding anak di Neon Bit disusun bertahap sesuai usia dan kemampuan awal. Pada usia 4–8 tahun, anak dikenalkan dengan coding melalui cerita serta permainan visual di ScratchJr, lalu pembuatan game di Scratch untuk usia 8–10 tahun. Pada usia 10–15 tahun, anak mengeksplorasi Scratch, mBlock, Roblox Studio, dasar pembuatan website, dan penggunaan AI untuk belajar. Peserta usia 15–18 tahun mendalami pengembangan software dan website dengan HTML, CSS, serta JavaScript, termasuk pemanfaatan AI dalam proyek digital.

Neon Bit juga didukung oleh pengajar yang memiliki kredensial STEM.org Certified sebagaimana tercatat dalam verifikasi kredensialnya. Mentor membantu anak memahami materi melalui penjelasan yang mudah diikuti dan mendampingi mereka saat menemui kesulitan. Anak tetap diberi ruang untuk bertanya serta mencoba ide sendiri agar proses belajar terasa menyenangkan.
Kesimpulan
Mainan STEM tidak harus mahal atau menggunakan teknologi canggih. Balok konstruksi, puzzle, science kit, robotik, hingga coding toys dapat mengenalkan STEM kepada anak. Tujuannya adalah untuk memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba, bereksperimen, dan mencari solusi.
Coding juga dapat menjadi aktivitas STEM untuk anak yang menarik karena mengajak mereka menciptakan sesuatu menggunakan teknologi. Pendampingan dalam kelas dapat membantu anak mengembangkan ide menjadi karya sambil memahami langkah-langkah pembuatannya. Untuk mendukung proses tersebut, Neon Bit menawarkan les coding anak Jogja dengan pembelajaran yang disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.

Ingin mencoba kelas coding anak jogja Neon Bit yang sesuai dengan minat dan kemampuan anak? Yuk, ikuti Trial Class untuk mengenal kegiatan belajarnya sebelum memilih program. Pelajari lebih lanjut mengenai program coding anak Neon Bit atau ikuti Trial Class Neon Bit secara gratis untuk melihat bagaimana metode pembelajarannya membantu anak berkembang di era digital.