
Banyak orang tua yang khawatir terhadap paparan internet di kehidupan anak. Hal tersebut tentu beralasan melihat masifnya penggunaan media sosial yang digunakan oleh anak di bawah umur. Namun, tentu orang tua tidak bisa menolak keberadaan teknologi yang kian berkembang, terlebih saat ini mereka tumbuh besar di era internet dan gawai yang serba canggih.
Maka dari itu, sebagai generasi yang melek digital, anak dapat dituntun untuk memanfaatkan keaktifan mereka dalam menggunakan internet. Mereka bisa diarahkan untuk tidak hanya menjadi konsumen dalam menikmati produk internet, melainkan juga menciptakan sesuatu menggunakan teknologi.
Salah satu kegiatan yang dapat diperkenalkan kepada anak adalah coding. Melalui kegiatan ini, anak tidak hanya menggunakan produk digital, tetapi juga belajar menyusun intruksi, mengembangkan ide, dan membuat proyek. Proyek seperti game atau animasi sederhana dapat membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir logis dan memecahkan masalah.
Untuk itu, perlu pendampingan mentor yang tepat untuk dapat membantu anak memulai belajar coding. Bagi orang tua yang sedang mencari sekolah coding Jogja, tersedia berbagai pilihan program dengan kurikulum dan metode pembelajaran yang berbeda. Maka dari itu, orang tua juga perlu memperhatikan kesesuaian materi dan metode belajar dengan usia, minat, serta kemampuan anak.
Lantas, bagaimana cara memilih sekolah coding di Jogja yang cocok untuk anak? Yuk, mari simak pembahasannya!
Apa Itu Sekolah Coding Anak?
Sekolah coding anak adalah tempat belajar yang mengenalkan dasar pemrograman kepada anak. Sekolah coding menjadi pilihan tepat bagi orang tua yang masih bingung mengarahkan anak untuk memulai belajar coding yang disesuaikan dengan tahap perkembangannya
Berbeda dari pemrograman untuk orang dewasa yang berfokus pada syntax, kelas coding untuk anak umumnya mengenalkan dasar pemrograman dan computational thinking dengan materi yang telah disesuaikan. Anak-anak lebih dikenalkan dalam konsep logika pemrograman yang lebih sederhana.
Kelas coding anak umumnya menggunakan aktivitas visual, permainan, storytelling, animasi, dan pembuatan game sederhana. Beberapa program juga menggunakan Project-Based Learning agar anak dapat menerapkan konsep yang dipelajari. Tujuannya bukan sekadar menghafal kode, melainkan memahami logika, algoritma, proses mencoba, dan cara memperbaiki kesalahan.
Apa Manfaat Belajar Coding untuk Anak?
a. Melatih Computational Thinking Anak
Salah satu manfaat belajar coding untuk anak adalah memberikan anak kesempatan untuk melatih computational thinking. Istilah ini mengacu pada proses berpikir yang sistematis dan logis. Anak yang belajar coding, akan memecahkan masalah kompleks menjadi bagian yang lebih kecil.
Dengan begitu, anak bisa megenali pola serta menyusun langkah penyelesaian masalah dengan informasi yang relevan. Cara berpikir terstruktur seperti ini, dapat diterapkan dalam kegiatan sehari-hati. Namun, penerapannya tetap perlu dilatih bertahap melalui aktivitas yang sesuai dengan kemampuan anak.
b. Mengembangkan Problem Solving Anak
Ketika belajar coding, anak akan menghadapi situasi ketika program yang dijalankan tidak berjalan sesuai rencana. Kondisi ini mendorong anak mencari penyebab masalah dan mencoba menyelesaikannya.
Dalam proses tersebut, kemampuan computational thinking dan daya berpikir kritis anak turut dilatih untuk menemukan solusi yang tepat. Proses mencoba, mengevaluasi, dan memperbaiki tersebut dapat membantu anak untuk mengenal strategi pemecahan masalah atau problem solving.
c. Melatih Penalaran Logis Anak
Dalam coding, program bekerja sesuai dengan perintah yang diberikan. Agar program berjalan, setiap perintah disusun secara jelas dan berurutan. Melalui kegiatan coding, anak dapat mengenal konsep instruksi yang disusun tersebut.
Dengan begitu, anak berlatih menyusun langkah-langkah yang logis untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Coding mampu meningkatkan kemampuan penalaran anak lebih baik. Mereka akan belajar memahami hubungan antara perintah dan hasil.
d. Mengembangkan Kreativitas Anak
Coding bisa digunakan sebagai sarana untuk menuangkan ide untuk anak, lho. Melalui platform pemrograman visual, anak dapat membuat game sederhana, animasi, cerita interaktif, maupun proyek digital lainnya.
Dalam membuat proyek, anak perlu menentukan tema, memilih tampilan, dan menyusun alur cerita. Dengan demikian, anak tidak hanya menyalin contoh, tetapi diberikan kesempatan untuk mencoba ide dan menghasilkan karya berdasarkan minatnya.
e. Melatih Ketekunan Anak
Saat belajar coding, anak pasti akan menemukan kesalahan, misalnya, program yang tidak bekerja dengan benar. Maka, dalam prosesnya, anak akan belajar melakukan debugging, yaitu mencari, mengidentifikasi, dan memperbaiki kesalahan pada susunan perintah.
Aktivitas tersebut memberikan ruang bagi anak untuk tetap tekun dalam membiasakan diri menghadapi kesalahan. Pengalaman ini membantu anak memahami bahwa kesalahan merupakan bagian dari proses belajar.
f. Mengenalkan Teknologi Secara Produktif
Anak mungkin terbiasa menggunakan gawai untuk bermain game dan menonton video di media sosial. Nah, Melalui pembelajaran coding, anak dapat mengenal sisi lain dari teknologi yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan.
Anak juga dapat memanfaatkan teknologi untuk bereksperimen, menuangkan ide, dan menciptakan karya sendiri. Dengan demikian, mereka tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu menghasilkan sesuatu melalui teknologi.
Usia Berapa Anak Bisa Mulai Belajar Coding?
Tidak ada ketentuan mengenai usia minimal untuk anak belajar coding. Anak dapat dikenalkan pada konsep dasar sejak usia dini selama pembelajarannya disesuaikan dengan tahap perkembangan mereka. Kesiapan anak dalam belajar tergantung pada minat, kemampuan membaca, dan pengalaman menggunakan perangkat.
a. Usia 4–6 Tahun
Pada usia ini 4-6 tahun, pembelajaran berfokus pada logika sederhana, pengenalan pola, dan sequencing atau penyusunan instruksi secara berurutan. Platform seperti ScratchJr dapat digunakan untuk mengenalkan dasar coding melalui blok perintah bergambar. Dengan cara yang menyenangkan, anak dapat membuat cerita dan animasi interaktif sederhana.
b. Usia 7–9 Tahun
Fase selanjutnya, usia 7-9 tahun, anak dapat mulai menggunakan Scratch untuk mempelajari sequence, event, condition, dan loop. Berbagai konsep tersebut diterapkan melalui pembuatan animasi, cerita interaktif, dan game sederhana. Kegiatan ini membantu melatih computational thinking anak sekaligus kemampuan memecahkan masalah.
c. Usia 10–12 Tahun
Memasuki usia 10-12 tahun, anak dapat mengeksplorasi coding melalui kegiatan yang lebih kompleks. Roblox Studio mulai diperkenalkan apabila anak telah memahami logika dasar pemrograman. Anak yang telah memahami logika dasar pemrograman dapat mencoba Roblox Studio untuk mempelajari pengembangan game dan membangun dunia virtual menggunakan Lua Script. Anak juga dapat belajar menggunakan mBlock untuk membuat animasi, game, dan menjalankan perangkat robotik.
d. Usia 13–15 Tahun
Selanjutnya pada usia remaja, yakni 13-15 tahun, materi coding bagi anak dapat berkembang ke arah pemrograman bebasis web development dengan mempelajari HTML, CSS, dan JavaScript. Anak belajar coding menggunakan HTML untuk menyusun struktur halaman, CSS untuk mengatur tampilan, serta JavaScript untuk menambahkan fungsi interaktif. Selain pengembangan website, mereka juga dapat mengeksplorasi game development, robotik, dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Apa Saja yang Dipelajari Sekolah Coding Anak di Jogja?
Belajar coding bukan hanya mengajarkan anak cara menulis kode saja. Materi coding diberikan secara bertahap berdasarkan kemampuan dan pengalaman setiap anak. Maka dari itu, sekolah coding di Jogja biasanya menyediakan beberapa jenis program yang dipilih berdasarkan usia dan kemampuan anak. Jenis materi yang tersedia dapat berbeda di setiap sekolah. Setiap materi dirancang secara bertahap dengan program yang umum ditemui dalam program coding untuk anak.
a. Aplikasi Coding Anak Scratch dan Scratch Junior
Scratch dan ScratchJr mengenalkan dasar coding melalui blok perintah bergambar kepada anak. Anak belajar memahami urutan instruksi yang disusun untuk membuat cerita interaktif, animasi, dan game sederhana. ScratchJr umumnya digunakan untuk anak usia dini (4-6 tahun), sementara Scratch menawarkan fitur yang lebih beragam untuk membuat proyek yang lebih rumit.
b. Game Development
Dalam materi game development untuk anak, mereka belajar membuat permainan dengan menyusun karakter, aturan permainan, level, skor, dan mekanisme permainan. Proses ini membantu mereka memahami game tidak hanya terdiri dari tampilan yang menarik, tetapi instruksi dan aturan yang terhubung agar dapat dimainkan.
d. Roblox Studio
Roblox Studio membantu anak bereskplorasi membuat game dan membangun dunia virtual 3D. Program ini lebih cocok untuk anak yang memahami logika dasar pemrograman. Di sini, mereka dapat menciptakan lingkungan, menambahkan objek, membuat aturan permainan, dan mengenal dasar scripting menggunakan Luau.
e. Robotik dan Arduino
Materi robotik dan Arduino lebih kompleks dipelajari untuk anak. Materi ini menggabungkan coding dengan perangkat fisik, seperti sensor, motor, kampu, dan komponen elektronik. Mereka dapat mempelajari perintah dibuat yang menghasilkan tindakan, seperti menggerakkan robot atau menyalakan lampu menggunakan sensor.
f. Web Development dan Pemrograman
Untuk anak yang siap mempelajari materi lebih lanjut, pembelajaran akan dikenalkan pada web development dan pemrograman berbasis teks. Penggunaan HTML, CSS, dan JavaScript akan dipelajari sebagai bagian dari pengembangan. Lewat materi ini, anak dapat menerapkan pengetahuannya dengan membuat website atau proyek digital sederhana.
g. Artificial Intellegence atau AI
Anak akan dikenalkan pada cara penggunaan AI sebagai pendamping dalam mengembangkan proyek. AI digunakan sebagai tool atau alat untuk membantu mencari ide, coding, hingga debugging. Namun, mereka tetap diarahkan untuk menentukan pilihan dan menggunakan teknologi tersebut secara bertanggung jawab.
Bagaimana Memilih Sekolah Coding Jogja untuk Anak?
Orang tua yang ingin mendaftarkan anak ke sekolah coding di Jogja sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan biaya dan lokasi. Perhatikan pula kurikulum, metode pembelajaran, kompetensi mentor, jumlah peserta, serta kesesuaian program dengan usia anak.
Jika tersedia, manfaatkan trial class dalam kelas coding Jogja untuk melihat langsung materi, cara mentor mengajar, dan respons anak selama belajar. Melalui trial class, orang tua dan anak dapat menilai langsung kecocokan program dan materi sebelum mendaftarkan anak ke kelas coding.
- Sesuaikan dengan Usia Anak
- Perhatikan Kurikulumnya
- Pilih Pembelajaran Berbasis Proyek
- Perhatikan Kompetensi Mentor
- Perhatikan Rasio Mentor dan Siswa
- Cari Program yang Bertahap
- Pertimbangkan Trial Class
Berapa Biaya Sekolah Coding Anak di Jogja?
Biaya sekolah coding anak di Jogja berbeda-beda tergantung durasi program, tingkat materi, jumlah pertemuan, fasilitas, dan format kelas. Program lanjutan yang mencakup robotika atau pemrograman berbasis teks umumnya memiliki biaya berbeda dari kelas dasar. Namun, perlu diingat, untuk membandingkan program, orang tua perlu memperhatikan nilai pembelajaran yang diperoleh. Misalnya, kualitas kurikulum, pendampingan mentor, fasilitas, hasil proyek belajar, dan laporan perkembangan anak. Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, value yang didapat akan selaras dengan harga yang didapatkan.
Kelas Coding Anak Offline atau Online, Mana yang Lebih Baik?
Kelas offline maupun online memiliki keunggulannya masing-masing. Semua tergantung dari gaya belajar anak, jadwal, kesiapan perangkat, dan kualitas program yang ditawarkan. Sebagai pertimbangan, kelas offline memungkinkan anak untuk berinteraksi dengan mentor dan teman sekelas. Dengan begitu, anak akan mendapatkan mentoring langsung sehingga cocok untuk anak yang membutuhkan pendampingan dan mudah berkonsentrasi di dalam kelas.
Kelas online juga memiliki kelebihannya sendiri dengan menawarkan waktu dan tempat belajar yang lebih fleksibel. Anak bisa mengikuti pembelajaran dari rumah tanpa menempuh perjalanan dan orang tua dapat mengawasi anak. Karena itu, format kelas sebaiknya tidak menjadi satu-satunya pertimbangan dalam memilih sekolah coding.
Belajar Coding Sendiri atau Ikut Sekolah Coding, Mana yang Cocok untuk Anak?
Mempelajari coding bisa dilakukan di berbagai kondisi. Ada yang memilih untuk belajar secara otodidak, maupun mengikuti kursus coding untuk anak. Tentunya, belajar sendiri maupun mengikuti sekolah coding, memiliki kelebihan. (diperhalus lagi bridgingnya)
Belajar coding secara mandiri memberikan fleksibilitas. Anak dapat belajar sesuai waktu dan kecepatannya sendiri. Apalagi, saat ini banyak sumber online yang dapat diakses secara gratis. Akan tetapi, belajar mandiri bukan tanpa kekurangan.
Anak mungkin bisa kesulitan saat mengalami eror, mencari materi, atau mempertahankan motivasi. Apalagi jika mereka tidak memiliki mentor, seperti guru atau orang tua yang memahami kebutuhan tahapan proses belajar dalam coding.
Maka dari itu, sekolah coding untuk anak menawarkan kurikulum yang terstruktur dan pendampingan mentor. Dengan begitu, anak memiliki lingkungan belajar yang aktif. Orang tua juga dapat mengawasi proses belajar berdasarkan umpan belajar dan hasil karya mereka selama mengikuti kelas coding.
Neon Bit, Rekomendasi Les Coding Anak di Jogja
Saat memilih sekolah coding anak di Jogja, orang tua perlu memperhatikan kesesuaian kurikulum dengan usia anak. Coding untuk anak ditujukan untuk membantu anak mengembangkan logika, problem solving, computational thinking, dan kreativitas. Ada beragam pilihan kursus coding anak di Jogja. Setiap tempat memiliki kurikulum, metode pembelajaran, dan jenjang yang berbeda. Salah satu les coding anak di Jogja yang dapat dipertimbangkan adalah Neon Bit, sekolah coding Jogja untuk anak dan remaja usia 4–18 tahun.

Beberapa keunggulan yang ditawarkan Neon Bit sebagai les coding anak Jogja meliputi:
- Program sesuai jenjang usia: Materi dibagi menjadi Code & Tell untuk usia 4–8 tahun, Code & Play untuk usia 8–10 tahun, Code & Explore untuk usia 10–15 tahun, serta Code & Web untuk usia 15–18 tahun. Pembagian tersebut memungkinkan anak mengikuti materi berdasarkan usia dan tingkat kemampuannya.
- Menggunakan pembelajaran berbasis proyek: Melalui pendekatan project-based learning, anak tidak hanya mempelajari konsep coding, tetapi juga menerapkannya dalam pembuatan game, animasi, cerita interaktif, proyek Roblox, website, dan proyek digital lainnya.
- Kurikulum disusun secara bertahap: Anak dapat memulai pembelajaran dari logika dan pemrograman visual, kemudian berkembang menuju game development pemrograman berbasis teks, pengembangan website, dan penggunaan AI sebagai pendamping dalam membuat proyek.
- Pilihan kelas offline dan online: Kelas offline tersedia di Neutron Taman Siswa 1 dan Neutron Kotabaru. Bagi keluarga yang membutuhkan waktu dan tempat belajar lebih fleksibel, Neon Bit juga menyediakan pilihan kelas online.
- Pilihan biaya berdasarkan program: Code & Tell ditawarkan mulai dari Rp2,5 juta hingga Rp3,5 juta untuk satu level. Code & Play tersedia mulai dari Rp2,5 juta untuk satu level hingga Rp4,2 juta untuk dua level, sedangkan Code & Explore mulai dari Rp3 juta untuk satu level hingga Rp5,5 juta untuk tiga level. Sementara itu, biaya Code & Web berkisar antara Rp2,5 juta dan Rp3,7 juta untuk satu level.
- Tersedia Free Trial Class Coding Anak: Di Neon Bit, anak dapat mencoba proses pembelajaran dan berinteraksi dengan mentor sebelum mengikuti program secara rutin. Kesempatan ini juga membantu orang tua melihat kesesuaian materi, tingkat kesulitan, dan respons anak selama belajar.
Kesimpulan
Neon Bit dapat menjadi salah satu pilihan kelas coding anak Jogja bagi orang tua yang mencari program belajar terstruktur dan sesuai usia. Melalui pembelajaran berbasis proyek, anak mendapat ruang untuk bereksperimen, memecahkan masalah, dan menghasilkan karya digital.
Program Neon Bit ditujukan bagi anak dan remaja usia 4–18 tahun dengan jenjang mulai dari Code & Tell hingga Code & Web. Dalam prosesnya, peserta dapat membuat game, animasi, cerita interaktif, proyek Roblox, situs web, dan berbagai karya digital lainnya.

Tertarik mencoba kursus coding anak Jogja yang sesuai dengan minat anak? Neon Bit menyediakan kelas offline dan kelas coding online. Daftarkan anak dalam Free Trial Class untuk melihat proses pembelajarannya sekaligus berkonsultasi mengenai program yang tepat.