
Banyak orang menganggap coding dan matematika sebagai dua bidang yang tidak bisa dipisahkan. Anggapan ini muncul karena coding memang melibatkan logika, pola, angka, hingga proses pemecahan masalah yang juga ditemukan dalam matematika. Hal ini kemudian membuat sebagian orang tua bertanya-tanya, apakah anak harus pandai matematika terlebih dahulu jika ingin mulai belajar coding?
Sebenarnya, belajar coding tidak sepenuhnya linear dengan matematika. Ada beberapa konsep coding yang memang membutuhkan kemampuan matematika, terutama pada bidang tertentu seperti pengembangan game, kecerdasan buatan, data science, dan computer graphics. Namun, untuk mempelajari dasar-dasar coding, kemampuan berpikir logis dan memahami instruksi justru menjadi hal yang lebih penting. Contohnya seperti coding untuk anak-anak. Platform seperti Scratch atau Blockly tidak langsung mengajarkan anak untuk memahami rumus matematika, melainkan memahami urutan instruksi yang logis dalam bentuk visual.
Lantas, apa sebenarnya hubungan coding dengan matematika? Apakah kemampuan matematika dapat membantu anak dalam belajar coding, dan apakah anak yang kurang kuat dalam matematika tetap bisa mempelajari coding? Simak penjelasan lengkap mengenai hubungan coding dan matematika berikut ini.

Mengapa Coding Sering Dikaitkan dengan Matematika?
Coding sering dikaitkan dengan matematika karena keduanya sama-sama membutuhkan kemampuan berpikir logis dan sistematis. Saat menulis kode, seseorang perlu memahami urutan instruksi, mengenali pola, menggunakan kondisi tertentu, serta memecahkan masalah menjadi langkah-langkah yang lebih sederhana. Cara berpikir tersebut memiliki kemiripan dengan proses yang digunakan ketika menyelesaikan persoalan matematika.
Selain itu, beberapa konsep matematika memang digunakan secara langsung dalam coding, seperti operasi hitung, koordinat, logika, aljabar, hingga statistik. Namun, bukan berarti semua aktivitas coding membutuhkan kemampuan matematika tingkat tinggi. Penggunaannya bergantung pada jenis program yang dibuat, bahasa pemrograman, serta tingkat kompleksitas proyek yang sedang dikerjakan.
Matematika dan Coding, Keduanya Melatih Logika
Baik coding maupun matematika sama-sama mengajarkan kita untuk berpikir secara logis. Keduanya dapat menjadi sarana belajar anak dalam menganalisis kondisi, menentukan langkah yang tepat, dan mengevaluasi hasilnya.
Anak Belajar Mengenali dan Menyusun Pola
Alasan kedua adalah coding dan matematika yang sama-sama menggunakan pola khusus. Di matematika, pola ini umumnya kita kenal dengan istilah rumus. Sementara di coding, pola yang digunakan mencakup perulangan, percabangan, dan pengurutan.
Pemecahan Masalah Secara Bertahap
Alasan ketiga adalah keduanya yang sama-sama membutuhkan proses pemecahan masalah yang bertahap. Soal matematika yang rumit dapat diselesaikan apabila Anda memahami sub-sub masalahnya terlebih dahulu dan menyelesaikannya. Hal yang sama juga berlaku dalam ilmu coding.
Membutuhkan Ketelitian
Alasan terakhir adalah keduanya yang sama-sama membutuhkan ketelitian tinggi. Tanpa poin penting ini, soal matematika yang dikerjakan akan begitu sulit untuk diselesaikan. Hal yang sama juga berlaku dalam coding. Lupa tanda titik koma saja, program tidak akan berjalan dengan baik.
Konsep Matematika Apa yang Digunakan dalam Coding?
Di coding, kita bisa menemukan banyak konsep matematika yang digunakan. Beberapa di antaranya seperti:
- Operasi Hitung Dasar.
Penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian adalah konsep matematika yang pasti akan Anda jumpai dalam coding. Konsep ini sering digunakan dalam program menghitung nilai atau bahkan mengatur pergerakan objek. - Variabel.
Dalam coding, konsep matematika ini digunakan sebagai penyimpan nilai selama program berjalan. - Koordinat (X dan Y).
Konsep ini sering digunakan sebagai penentu posisi objek di layar. Saat membuat animasi di Scratch, anak akan mengatur posisi karakter menggunakan koordinat X dan Y sehingga objek dapat bergerak ke arah yang diinginkan. - Pola dan Urutan.
Dapat dikatakan, konsep matematika ini menjadi konsep dasar dalam penentuan langkah program yang jelas. - Logika Boolean.
Konsep benar (True) dan salah (False) menjadi dasar pengambilan keputusan dalam program. Sebagai contoh, program akan menjalankan perintah tertentu apabila pemain berhasil memperoleh skor minimal 100 poin, sedangkan jika belum mencapainya permainan akan tetap berlanjut.
Apakah Anak Harus Pintar Matematika untuk Belajar Coding?
Setelah membaca penjelasan lengkap mengenai hubungan antara matematika dan coding di atas, Anda pasti jadi sedikit berpikir bahwa anak yang jago coding harus pintar matematika terlebih dahulu bukan?
Jika iya, ketahuilah bahwa jawabannya tidak harus. Sebaliknya, belajar coding malah dapat membantu anak memahami konsep matematika yang terkenal rumit. Pendiri WiByte, Vineet Srivastava yang mengatakannya.
Pernyataan ini ia sandarkan pada eksperimen kepada siswa untuk menyelesaikan soal visualisasi koordinat sumbu X dan Y. Awalnya siswa tersebut mengaku tidak bisa mengerjakannya, tetapi dengan Scratch, ia berhasil melakukannya.
Bagaimana Coding Membantu Pembelajaran Matematika?
Pernyataan yang disampaikan oleh Vineet Srivastava pasti menimbulkan beberapa pertanyaan besar. Bagaimana bisa coding dapat membantu pemahaman matematika menjadi lebih baik? Berikut ini adalah beberapa analisis jawabannya dari tim Neon Bit, lembaga kursus coding untuk anak asal Yogyakarta:
Membantu Memahami Konsep Koordinat
Dalam proses membuat program untuk animasi atau game sederhana, anak akan belajar menggunakan titik koordinat X dan Y demi dapat memindahkan objek. Proses inilah yang akan memudahkan anak memahami cara kerja bidang koordinat lebih mudah melalui praktik langsung.
Melatih Berpikir Sistematis
Coding membantu anak untuk memecahkan masalah dengan membaginya menjadi beberapa sub masalah. Setiap sub masalah yang terselesaikan akan membantu anak menyelesaikan inti permasalahan yang sebenarnya. Konsep seperti ini, umumnya akan banyak kita jumpai pada permasalahan matematika kompleks seperti di kalkulus (turunan dan integral).
Membantu Memahami Pola
Pembuatan animasi, perulangan program, maupun algoritma sederhana membantu anak mengenali pola yang juga banyak digunakan dalam pelajaran matematika.
Membuat Matematika Lebih Interaktif
Melalui proyek coding, konsep matematika tidak hanya dipelajari dalam bentuk teori, tetapi juga diterapkan secara langsung dalam pembuatan game, animasi, maupun aplikasi sederhana.
Meningkatkan Kemampuan Problem Solving
Setiap proyek coding menghadirkan tantangan yang harus diselesaikan. Kebiasaan ini membantu anak meningkatkan kemampuan problem solving yang juga sangat dibutuhkan dalam pembelajaran matematika.
Kapan Matematika Dibutuhkan dalam Dunia Coding?
Kebutuhan pemahaman matematika dalam bidang coding sebenarnya tergantung dari jenis program coding yang dipelajari. Apabila program coding yang dipelajari berkaitan erat dengan artificial intelligence, machine learning, atau data science, kebutuhan pemahaman matematika yang baik tentu akan sangat krusial di setiap proses di dalamnya.
Tetapi jika program yang dikembangkan seperti program visual, website, dan aplikasi sederhana, kebutuhan pemahaman matematika yang diperlukan tergolong rendah. Tetapi, jika program yang dikreasikan memerlukan banyak proses rumit di dalamnya, maka tentu saja pemahaman matematika sangat diperlukan. Hal yang sama juga untuk program pengembangan game.
Neon Bit, Kelas Coding Terbaik untuk Anak Kembangkan Logika Berpikirnya Sejak Dini!
Setelah mengetahui fakta bahwa coding dan matematika memiliki hubungan yang erat dan saling menguatkan, beberapa dari Ayah/Bunda mungkin tertarik untuk segera mengikutsertakan anak ke kelas coding atau matematika khusus. Kelas coding yang baik umumnya akan menjalankan peran sebagai fasilitator, motivator, dan pendamping langsung anak dalam memahami proyek coding yang dikreasikan.
Peran fasilitator yang dimaksud mencakup pengadaan perangkat belajar, seperti laptop, komputer, kursi, meja, maupun ruang belajar yang memadai. Adapun peran motivator dan pendamping didapatkan dari mentor ahli dan berpengalaman. Mentor ini tidak hanya mengerti metode belajar efektif, tetapi juga memahami dunia anak.
Lalu, bagaimana Anda dapat menemukan kelas coding yang mampu menjalankan peran penting di atas? Anda bisa menemukannya dengan melihat beberapa kriteria penting di bawah ini, dimulai dari:
- Kurikulum yang dijalankan sesuai dengan usia dan kemampuan anak.
- Pembelajarannya fokus pada pengembangan logika dan problem solving.
- Mengutamakan pendekatan berbasis proyek (project based learning).
- Diisi oleh banyak mentor yang berpengalaman mengajar anak-anak.
- Tidak fokus pada kemampuan matematika tingkat tinggi di level awal.
- Menyediakan kelas trial agar anak dapat mencoba terlebih dahulu sebelum mengikuti program secara penuh.
Enam kriteria di atas dapat Anda temukan di Neon Bit. Lembaga kelas coding untuk anak tepercaya asal Yogyakarta. Di Neon Bit, pembelajaran coding dirancang dalam empat kelompok usia, yaitu 4–8 tahun, 8–10 tahun, 10–15 tahun, dan 15–18 tahun.

Usia 4–8 Tahun – Code & Tell: Anak diperkenalkan pada konsep logika dan coding visual menggunakan ScratchJr. Materinya dibuat sederhana agar sesuai dengan kemampuan anak dalam memahami instruksi dan pola.
Usia 8–10 Tahun – Code & Play: Anak mulai belajar coding melalui pembuatan game sederhana dengan Scratch. Dari proyek tersebut, anak dapat memahami hubungan antara instruksi, logika, dan hasil yang muncul dalam sebuah permainan.
Usia 10–15 Tahun – Code & Explore: Pada tahap ini, anak mulai mengeksplorasi proyek yang lebih menantang, seperti membuat website dan game 3D menggunakan Roblox Studio. Proses pengerjaan proyek juga membantu anak mengasah kemampuan problem solving dan memahami konsep coding dengan lebih mendalam.
Usia 15–18 Tahun – Code & Web: Anak mempelajari HTML, CSS, dan JavaScript untuk mengembangkan website maupun aplikasi. Selain kemampuan dasar pengembangan web, anak juga mulai mengenal penggunaan AI untuk mendukung proses pembuatan dan pengembangan proyek digital.
Setiap kelompok memiliki materi dan jenis proyek yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Dengan sistem pembelajaran bertahap ini, anak dapat mulai dari mengenal konsep logika sederhana hingga mengembangkan proyek digital yang semakin kompleks.
Kesimpulan
Pada dasarnya, coding dan matematika memiliki hubungan yang cukup erat, terutama dalam hal penggunaan logika, pola, dan kemampuan memecahkan masalah. Namun, bukan berarti anak harus menguasai matematika terlebih dahulu untuk mulai belajar coding. Uniknya, mempelajari coding akan membantu anak memahami konsep matematika lebih mudah. Kedua pelajaran ini sangat penting untuk anak karena sama-sama mampu mengembangkan kemampuan berpikir logis, sistematis, analitis.Dengan materi yang sesuai usia dan kemampuan, anak dapat mengenal coding secara bertahap sekaligus mengembangkan cara berpikir logis melalui berbagai aktivitas dan proyek.
Karena itu, memilih program belajar coding yang sesuai dengan tahap perkembangan anak menjadi hal yang perlu diperhatikan orang tua. Neon Bit menghadirkan pembelajaran coding dengan metode Project Based Learning, sehingga anak tidak hanya mempelajari konsep dan teori, tetapi juga mengaplikasikannya melalui berbagai proyek. Mulai dari membuat game, website, hingga proyek digital lainnya dapat dilakukan sesuai dengan tingkat kemampuan anak.
Kurikulum Neon Bit dirancang secara bertahap untuk anak usia 4–18 tahun. Setiap kelompok usia memiliki materi, tantangan, dan proyek yang berbeda sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kemampuan anak. Selama proses belajar, anak juga mendapatkan pendampingan dari mentor sehingga mereka dapat memahami materi sekaligus mengembangkan kreativitas dan kemampuan problem solving.

Di Neon Bit, anak akan belajar coding dari mentor yang asyik, ramah, profesional, dan berpengalaman. Anak tidak hanya akan mempelajari teori coding, tetapi juga belajar bagaimana caranya membuat proyek coding tersendiri. Jika ingin mengetahui seperti apa pengalaman belajar coding di Neon Bit, orang tua dapat mencoba Trial Class terlebih dahulu. Setelah itu, Anda juga dapat menghubungi tim Neon Bit melalui WhatsApp untuk berkonsultasi mengenai pilihan program yang sesuai dengan usia dan kebutuhan anak.