Banyak orang tua masih mengira bahwa anak harus pandai matematika terlebih dahulu sebelum mulai belajar coding. Anggapan ini cukup wajar karena coding memang banyak melibatkan logika, pola, angka, dan kemampuan memecahkan masalah yang juga sering ditemukan dalam pelajaran matematika. Akibatnya, anak yang merasa kurang percaya diri dengan matematika terkadang menjadi ragu untuk mencoba belajar coding.

Lantas, apakah harus pandai matematika untuk belajar coding? Jawabannya, tidak selalu. Kemampuan matematika memang dapat membantu dalam mempelajari konsep coding tertentu, tetapi anak tidak harus menjadi ahli matematika untuk bisa mulai belajar coding. Justru, proses belajar coding dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk melatih kemampuan berpikir logis, menyusun langkah, dan memecahkan masalah secara bertahap.
Dari sini, wajar jika ada anggapan jika ingin jago coding harus bisa matematika terlebih dahulu. Lantas, apakah anggapan ini benar adanya? Silakan simak baik-baik artikel ini untuk mendapatkan jawabannya!
Apakah Belajar Coding Harus Pandai Matematika?
Jawaban singkatnya, tidak harus. Mengapa? Karena matematika bukanlah syarat utama dalam proses belajar coding. Matematika hanyalah salah satu dari bagian yang akan diajarkan dalam coding. Di tahap awal, terutama bagi anak-anak maupun pemula, pembelajaran coding lebih banyak berfokus pada kemampuan berpikir logis, penyusunan langkah sistematis, serta pemecahan suatu masalah.
Di tahap awal ini anak tidak langsung dihadapkan dengan konsep matematika dalam coding seperti aljabar, matematika diskrit, sistem biner, matriks, statistika, dan lain-lain.
Sebagai contoh, anak yang berada di usia 4 – 8 tahun akan mempelajari coding melalui platform Scratch Jr. Platform ini tidak langsung mengajarkan anak rumus-rumus matematika rumit.
Di platform ini anak hanya perlu menentukan urutan perintah agar karakter dapat bergerak, berbicara, atau melompat sesuai keinginan.
Mengapa Coding Sering Dikaitkan dengan Matematika?
Setelah mengetahui jawaban pasti bahwa anak yang jago coding tidak harus jago matematika dulu, beberapa dari Anda mungkin penasaran mengapa keduanya sering dikaitkan meski berbeda.
Beberapa alasan mengapa coding sering dikaitkan dengan matematika antara lain sebagai berikut:
Mengajarkan Bagaimana Caranya Berpikir Logis
Baik coding maupun matematika, keduanya sama-sama mengajarkan cara berpikir logis. Keduanya mengajarkan kita melihat masalah besar lalu membaginya menjadi beberapa sub masalah. Sub masalah inilah yang kemudian diberikan solusi relevan satu per satu.
Mengajarkan Cara Berpikir yang Sistematis
Bukan hanya memecah masalah besar menjadi beberapa sub masalah, keduanya juga mengajarkan kita cara berpikir yang sistematis. Setiap sub masalah memiliki kesulitannya masing-masing.
Terkadang, sub masalah B baru dapat diselesaikan apabila sub masalah A telah selesai. Contohnya dalam soal matematika yakni 10 + 5 x 2 – 4 =
Soal ini dapat diketahui jawabannya apabila Anda menguraikannya menjadi beberapa submasalah seperti di bawah
Tahap 1: Kerjakan perkalian dulu (5 x 2 = 10).
Tahap 2: Lakukan penjumlahan dan pengurangan dari kiri (10 + 10 = 20).
Tahap 3: Kurangkan hasilnya (20 – 4 = 16).
Beberapa Bidang Coding Menggunakan Konsep Matematika
Coding memang tidak selalu membutuhkan kemampuan matematika yang kompleks, tetapi beberapa bidang di dalamnya menggunakan konsep matematika secara lebih intensif. Misalnya, game development dapat memanfaatkan geometri, koordinat, dan perhitungan untuk mengatur posisi objek dalam permainan. Pada bidang data science dan artificial intelligence, konsep statistik, probabilitas, hingga aljabar dapat digunakan untuk mengolah dan menganalisis data. Sementara itu, computer graphics juga banyak memanfaatkan konsep matematika untuk membuat visual, animasi, dan pergerakan objek. Jadi, kebutuhan matematika dalam coding sangat bergantung pada bidang dan tingkat kompleksitas coding yang dipelajari.
Kapan Matematika Dibutuhkan dalam Coding?
Keterkaitan yang kuat antara matematika dan coding dapat dilihat dari banyak contoh pengembangan aplikasi, pengelolaan data, atau bahkan game. Berikut ini adalah beberapa proses coding yang di dalamnya membutuhkan konsep matematika:
Pengembangan Game
Ada banyak konsep matematika yang digunakan dalam proses pengembangan game. Contohnya seperti konsep koordinat (geometri) yang digunakan untuk menentukan posisi karakter, objek, atau titik di dalam game menggunakan koordinat X dan Y. Selain itu, konsep vektor juga sering diterapkan dalam pengembangan game 2D dan 3D.
Artificial Intelligence dan Machine Learning
Artificial intelligence dan machine learning adalah konsep teknologi yang dikembangkan agar komputer dapat mempelajari data secara otomatis. Dalam prosesnya, ada banyak konsep matematika yang bisa Anda temukan. Contohnya seperti statistika yang digunakan untuk memahami data, mengukur performa model, menghitung rata-rata, distribusi, dan lain sebagainya. Selain itu, ada juga konsep kalkulus yang digunakan untuk mengurangi kesalahan prediksi.
Data Science
Selanjutnya ada data science. Data science adalah ilmu terapan yang menggabungkan matematika, statistika, dan ilmu komputer. Ilmu ini sering digunakan untuk mendapatkan informasi valid sebagai pengambilan keputusan matang dalam bisnis. Di dalamnya, akan banyak bertemu dengan berbagai konsep matematika seperti probabilitas dan statistika deskriptif. Selain itu, Anda juga akan belajar bagaimana caranya menyajikan data matematika dalam bentuk visual yang mudah dipahami.
Pengembangan Website
Berbeda dengan pengembangan game, pengembangan website umumnya tidak membutuhkan konsep matematika yang rumit. Programmer biasanya hanya menggunakan operasi hitung dasar seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, atau pembagian ketika diperlukan, misalnya untuk menghitung harga, menentukan persentase, maupun mengatur ukuran elemen pada halaman website.
Keterampilan yang Sebaiknya Lebih Diutamakan Ketika Belajar Coding
Memiliki pemahaman matematika yang baik memang bagus untuk membantu proses belajar coding. Tetapi, ada keterampilan lain yang dapat diutamakan ketika mempelajari coding, terlebih jika proses belajar tersebut ditujukan untuk anak-anak.
Keterampilan lain yang dimaksud seperti:
1. Berpikir Logis
Keterampilan ini dapat dilatih meski tanpa soal matematika sekalipun. Dalam coding, keterampilan ini akan sangat berguna dalam menentukan urutan instruksi yang tepat agar program berjalan.
2. Problem Solving
Keterampilan kedua ini berjalan beriringan dengan keterampilan pertama. Melalui pemahaman problem solving yang baik, seorang programmer tidak hanya mampu memahami penyebab masalah, tetapi juga mampu merancang kode yang dapat menyelesaikan serta mencegah masalah yang sama datang kembali.
3. Ketelitian
Kesalahan kecil dalam kode dapat membuat program tidak berjalan, sehingga ketelitian sangat diperlukan. Memeriksa kembali setiap instruksi dan bagian kode membantu mengurangi kesalahan saat program dijalankan.
4. Kreativitas
Kreativitas membantu menghasilkan animasi, game, website, atau aplikasi yang menarik. Anak juga dapat menggunakan kreativitasnya untuk menentukan ide, tampilan, serta cara kerja proyek coding yang dibuat.
5. Kemauan untuk Terus Belajar
Perkembangan teknologi yang cepat menuntut seseorang untuk terus belajar dan mengikuti perubahan. Kemauan belajar juga membantu programmer memahami bahasa pemrograman, tools, dan teknologi baru yang terus berkembang.
Bagaimana Coding Diajarkan Kepada Anak?
Pembelajaran coding untuk anak tentu akan berbeda dengan pembelajaran coding bagi orang dewasa. Alih-alih diperkenalkan dengan konsep matematika rumit dalam coding atau pemrograman berbasis teks yang kompleks, anak akan mempelajari coding dari platform visual yang menyenangkan.
Platform visual yang digunakan antara lain Scratch Junior, Scratch, mBlock, atau Roblox. Melalui platform ini, anak dapat mempelajari konsep sederhana dengan cara menyusun blok-blok perintah.
Setiap blok perintah yang berhasil disusun dapat menjadi animasi, game sederhana, atau cerita interaktif yang menghibur. Metode belajar yang diterapkan pun lebih kepada pendekatan learn & play.
Platform yang disesuaikan serta metode belajar yang menyenangkan, tentu akan membantu anak memahami coding dengan mudah.
Tips Belajar Coding untuk Pemula
Jika anak Anda berminat untuk mempelajari coding sedari dini, berikut ini adalah beberapa tips yang bisa Anda terapkan:
- Jangan takut jika kemampuan matematika masih dasar.
- Mulailah dari platform visual seperti Scratch atau Blockly.
- Kerjakan proyek sederhana agar konsep coding lebih mudah dipahami.
- Belajar secara konsisten sedikit demi sedikit.
- Ikuti kelas dengan mentor agar proses belajar lebih terarah.
Belajar Coding & Matematika untuk Anak di Kelas Coding Neon Bit!
Matematika dan coding sama-sama melatih anak untuk berpikir logis, mengenali pola, dan menyelesaikan masalah secara sistematis. Namun, kebutuhan matematika dalam coding akan berbeda sesuai dengan tingkat kesulitan dan proyek yang dikerjakan. Karena itu, anak sebaiknya mendapatkan materi coding yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangannya agar proses belajar terasa lebih mudah dan menyenangkan.
Nah, di Neon Bit, anak mempelajari coding berdasarkan empat fase usia, yaitu 4–8 tahun, 8–10 tahun, 10–15 tahun, dan 15–18 tahun. Setiap fase memiliki fokus pembelajaran dan proyek yang berbeda sehingga anak dapat mengembangkan kemampuan coding secara bertahap, mulai dari mengenal logika dasar hingga membuat proyek digital yang lebih kompleks.
a. Usia 15–18 Tahun – Code & Web: Anak mempelajari HTML, CSS, dan JavaScript untuk membangun website dan aplikasi. Selain itu, anak juga mulai dikenalkan pada pemanfaatan AI sebagai bagian dari proses pengembangan proyek digital.
b. Usia 4–8 Tahun – Code & Tell: Anak mulai mengenal logika dasar dan coding visual melalui ScratchJr. Pada tahap ini, konsep coding diperkenalkan dengan cara yang sederhana dan sesuai dengan usia anak.
c. Usia 8–10 Tahun – Code & Play: Anak mulai mengembangkan kreativitas dengan membuat game sederhana menggunakan Scratch. Mereka juga belajar memahami bagaimana instruksi dan logika dapat digunakan untuk membuat sebuah permainan.
Usia 10–15 Tahun – Code & Explore: Anak mulai mengerjakan proyek yang lebih kompleks, seperti mengembangkan website dan game 3D melalui Roblox Studio. Pada tahap ini, kemampuan problem solving dan pemahaman konsep coding dikembangkan melalui proyek.
Kesimpulan
Untuk penutup, sebaiknya kembali menegaskan bahwa anak tidak harus pandai matematika untuk mulai belajar coding, lalu mengarahkan orang tua pada pilihan pembelajaran yang sesuai usia.

Pada akhirnya, belajar coding tidak mengharuskan anak pandai matematika terlebih dahulu. Meskipun beberapa bidang coding memang menggunakan konsep matematika, anak tetap dapat mulai belajar dari konsep dasar yang sesuai dengan usia dan kemampuan mereka. Dengan metode pembelajaran yang tepat, coding justru dapat membantu anak mengembangkan logika, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, dan cara berpikir sistematis.
Jika Anda ingin mengenalkan coding kepada anak melalui pembelajaran yang sesuai usia, Neon Bit dapat menjadi salah satu pilihan. Dengan metode Project Based Learning, anak tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga belajar membuat game, website, hingga berbagai proyek digital sesuai tingkat kemampuannya. Kurikulumnya disusun bertahap untuk anak usia 4–18 tahun dan didukung oleh pendampingan mentor berpengalaman.
Sebelum mendaftarkan anak, Anda dapat mencoba pengalaman belajar melalui Trial Class Neon Bit. Untuk mengetahui program yang paling sesuai dengan usia dan kebutuhan anak, hubungi tim Neon Bit melalui WhatsApp dan konsultasikan pilihan kelasnya.