Neon Bit & Sekolah Tumbuh Berkolaborasi Menghadirkan Mini Workshop Coding dalam Event “The End of Year Celebration – Seed of Learning”

Kolaborasi Neon Bit dengan Sekolah Tumbuh dirancang untuk menghadirkan pengalaman belajar yang inklusif sesuai keunikan & potensinya melalui Mini Workshop Coding. Yogyakarta, 12 Juni 2026 — Sekolah Tumbuh menyelenggarakan The End of Year Celebration (TEoYC) “Seed of Learning” pada 11–12 Juni 2026 di Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta. Mengusung semangat merayakan proses belajar setiap anak, kegiatan ini menghadirkan berbagai pertunjukan, pameran karya siswa, aktivitas komunitas, hingga Mini Workshop Coding dengan Roblox Studio bekerja sama dengan Neon Bit sebagai salah satu pengalaman belajar interaktif bagi siswa dan keluarga. Dalam workshop tersebut, peserta diajak mengenal dasar-dasar coding melalui Roblox Studio, platform yang memungkinkan anak belajar menyusun logika, berkreasi, dan mengembangkan ide menjadi proyek digital sederhana. Pendekatan ini dirancang agar coding dapat dipelajari secara bertahap melalui eksplorasi dan praktik langsung, sehingga menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus mudah diikuti oleh anak dengan beragam karakter dan kemampuan. Selama dua hari penyelenggaraan, The End of Year Celebration “Seed of Learning” dihadiri sekitar 400 pengunjung yang terdiri dari siswa, orang tua, guru, dan masyarakat. Antusiasme terhadap Mini Workshop Roblox Studio terlihat dari tingginya minat keluarga yang ingin mengenal lebih jauh program pembelajaran Neon Bit. Sebanyak 33 keluarga meminta informasi lanjutan mengenai program yang tersedia, sementara 14 anak mengikuti kelas percobaan (trial class) untuk merasakan secara langsung pengalaman belajar coding bersama Neon Bit. Faudyan Eka Satria, S.Ant., M.A., Penanggung Jawab Koordinasi Hubungan Eksternal sekaligus Panitia The End of Year Celebration Tumbuh High School 2026, mengatakan bahwa kehadiran Neon Bit selaras dengan semangat Sekolah Tumbuh dalam menghadirkan pengalaman belajar yang menghargai keberagaman. “Sebagai sekolah yang mengusung nilai Inclusive–Multicultural, kami percaya setiap anak memiliki potensi dan cara belajar yang berbeda. Kehadiran Neon Bit memberikan ruang bagi anak-anak untuk mencoba pengalaman baru yang dekat dengan keseharian mereka. Antusiasme yang ditunjukkan siswa selama workshop membuktikan bahwa ketika diberikan kesempatan untuk bereksplorasi, mereka mampu menunjukkan rasa ingin tahu, kreativitas, dan keberanian untuk mencoba hal-hal baru. Harapan kami, kolaborasi seperti ini dapat terus menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna bagi setiap anak.” – Faudyan Eka Satria, S.Ant., M.A., Penanggung Jawab Koordinasi Hubungan Eksternal sekaligus Panitia The End of Year Celebration Tumbuh High School 2026 Bagi Neon Bit, kolaborasi ini menjadi bagian dari komitmen menghadirkan pembelajaran coding yang dapat diakses oleh lebih banyak anak melalui pendekatan yang inklusif. “Kami percaya coding bukan hanya tentang teknologi, melainkan tentang cara anak belajar berpikir, berkreasi, dan memecahkan masalah. Karena itu, kurikulum Neon Bit dirancang berdasarkan tahap perkembangan anak usia 4–18 tahun sehingga setiap siswa dapat belajar sesuai dengan kebutuhannya. Kolaborasi dengan Sekolah Tumbuh menjadi sangat berarti karena kami memiliki visi yang sama bahwa pendidikan harus membuka kesempatan yang setara bagi setiap anak untuk tumbuh dan menemukan potensinya,” – Ahmad Zankie, COO Vortex sekaligus perwakilan Neon Bit. Kegiatan ini berlangsung di tengah penguatan literasi digital dalam pendidikan Indonesia. Melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 13 Tahun 2025, pemerintah mendorong pengenalan coding dan kecerdasan artifisial sebagai bagian dari pembelajaran di sekolah. Kolaborasi antara Sekolah Tumbuh dan Neon Bit menunjukkan bagaimana kebijakan tersebut dapat diwujudkan melalui pengalaman belajar yang kontekstual, inklusif, dan menyenangkan, sehingga anak-anak dapat mengenal teknologi sebagai sarana untuk berkreasi, berkolaborasi, dan mengembangkan potensi dirinya. Sebagai lembaga pendidikan Coding & AI di bawah naungan Neutron Yogyakarta, Neon Bit terus menghadirkan program pembelajaran yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak usia 4–18 tahun. Kolaborasi dengan Sekolah Tumbuh menjadi bagian dari upaya memperluas akses pembelajaran coding di lingkungan sekolah yang menjunjung tinggi keberagaman, sehingga semakin banyak anak memperoleh kesempatan untuk belajar melalui pendekatan yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan mereka. Kunjungi Neon Bit untuk informasi lengkap program kelas coding anak di Jogja Tentang Sekolah Tumbuh Sekolah Tumbuh merupakan sekolah inklusif yang berkomitmen menghadirkan pendidikan yang menghargai keberagaman serta mendukung tumbuh kembang setiap anak sesuai potensi dan kebutuhannya. Berlandaskan nilai Inclusive–Multicultural, Jogja Educational Spirit, dan Keistimewaan Kampus, Sekolah Tumbuh menciptakan lingkungan belajar yang aman, terbuka, dan kolaboratif bagi siswa dari berbagai latar belakang. Tentang Neon Bit Neon Bit adalah lembaga pendidikan Coding & AI di bawah naungan Neutron Yogyakarta. Neon Bit menyediakan program coding & ai untuk anak usia usia 4–18 tahun (TK hingga SMA) dengan kurikulum yang disesuaikan berdasar tahap perkembangan anak. Melalui proyek digital interaktif, Neon Bit memastikan anak dapat mengembangkan keterampilan teknologi, kreativitas, hingga problem solving.
SD Intis School Yogyakarta Gandeng Neon Bit Hadirkan Unplugged Learning untuk 20 Siswa Kelas 1 SD

Anak-Anak Belajar Logika dan Problem Solving Tanpa Gadget, Sembari 52 Orang Tua Mengikuti Seminar Parenting Yogyakarta, 13 Juni 2026 — SD Intis School Yogyakarta menggelar Seminar Parenting bersama 52 orang tua siswa kelas 1, sembari menghadirkan Mini Workshop Unplugged Learning bekerja sama dengan Neon Bit untuk 20 siswa kelas 1 SD. Format paralel ini memungkinkan orang tua fokus mengikuti seminar, sementara anak-anak memperoleh pengalaman belajar berpikir komputasional melalui aktivitas yang sesuai tahap perkembangan mereka. Dalam workshop, 20 siswa kelas 1 SD mengikuti aktivitas unplugged learning — pengenalan konsep dasar computational thinking tanpa perangkat digital. Melalui tantangan logika, permainan edukatif, dan worksheet yang dirancang sesuai usia, anak-anak belajar mengenali pola, menyusun langkah berurutan, dan menemukan solusi atas suatu permasalahan. Pendekatan ini menjadikan coding sebagai cara berpikir, bukan sekadar keterampilan menggunakan gadget. Mr. Zen Muhammad Alfaruq, Ketua Panitia Seminar Parenting SD Intis School Yogyakarta, menyampaikan alasan sekolah memilih Neon Bit sebagai mitra kegiatan. “Kami memilih Neon Bit karena pendekatannya menjawab kekhawatiran banyak orang tua soal gadget, bukan melarang, tapi mengarahkan teknologi menjadi produktif lewat coding dan AI. Workshop ini juga memungkinkan kami menyamakan visi rumah dan sekolah: sementara orang tua fokus di seminar, anak-anak tetap mendapat pengalaman belajar yang bermakna. Kami berharap kolaborasi seperti ini bisa berlanjut agar anak tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga kreator di era digital.”— Mr. Zen Muhammad Alfaruq, Ketua Panitia Seminar Parenting, SD Intis School Yogyakarta Bagi Neon Bit, kolaborasi ini sejalan dengan misi memperkenalkan literasi teknologi sejak dini dengan cara yang relevan bagi anak Indonesia. “Masalah utama bukan pada durasi penggunaan gadget, melainkan bagaimana gadget digunakan. Ketika anak memanfaatkan teknologi untuk membuat animasi atau game sederhana, teknologi menjadi sarana mengembangkan logika dan problem solving. Pengenalan coding sejak dini bukan untuk menjadikan anak ahli teknologi dalam waktu singkat, melainkan membangun pola pikir yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Ke depan, Neon Bit berkomitmen memperluas program serupa ke lebih banyak sekolah agar makin banyak anak mendapat fondasi berpikir komputasional sejak usia dini.”— Debby, Program Advisor, Neon Bit Kegiatan ini hadir di tengah penguatan literasi digital pada pendidikan dasar di Indonesia. Pemerintah melalui Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 telah mengarahkan pengenalan coding dan kecerdasan artifisial sebagai bagian dari pembelajaran sekolah. Dalam konteks ini, format unplugged learning menjadi pintu masuk yang ramah anak memperkenalkan logika komputasional tanpa ketergantungan pada perangkat, sebelum anak beranjak ke praktik coding berbasis layar. Sebagai lembaga pendidikan Coding & AI di bawah naungan Neutron Yogyakarta, Neon Bit terus menghadirkan program yang menyesuaikan jenjang usia anak 4–18 tahun. Kolaborasi dengan SD Intis School Yogyakarta menjadi bagian dari upaya memperluas akses pembelajaran teknologi sejak dini, khususnya di lingkungan sekolah dasar. Informasi lebih lanjut mengenai program kelas coding anak dapat diakses melalui website Neon Bit Kelas Coding Anak. Tentang SD Intis School Yogyakarta SD Intis School Yogyakarta merupakan institusi pendidikan yang berkomitmen menghadirkan pembelajaran holistik melalui kolaborasi aktif antara sekolah, siswa, dan keluarga, dengan fokus pada pengembangan karakter, kreativitas, dan kompetensi masa depan. Tentang Neon Bit Neon Bit adalah lembaga pendidikan Coding & AI di bawah naungan Neutron Yogyakarta yang membimbing anak usia 4–18 tahun mengembangkan keterampilan teknologi, kreativitas, dan problem solving melalui pembelajaran berbasis proyek yang interaktif dan relevan dengan kebutuhan masa depan.
Kelas Coding Grup vs Privat 1-on-1: Mana Cocok untuk Anak?

Literasi digital adalah kecakapan menggunakan teknologi, informasi, dan komunikasi secara efektif, kritis, dan etis. Kecakapan seperti ini akan membantu kamu terhindar dari informasi hoaks atau perilaku digital yang kurang baik. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan literasi digital. Salah satunya adalah dengan belajar coding. Coding dapat mengubah cara menggunakan teknologi, dari pengguna pasif menjadi kreator aktif. Dapat dikatakan bahwa belajar coding itu penting, tidak terkecuali untuk anak-anak. Mengikutsertakan anak ke kelas coding dapat menjadi pilihan terbaik. Namun, kelas coding apakah yang baik untuk anak? Kelas coding grup atau 1-on-1? Kelas Coding Manakah yang Terbaik untuk Anak? Sebelum benar-benar menjawab pertanyaan ini, sebaiknya kamu sebagai orang tua memahami kelebihan dan kekurangan dari masing-masing kelas. Mari kita mulai dari kelas coding grup terlebih dahulu. Kelebihan dan Kekurangan Kelas Coding Grup Sesuai dengan namanya, kelas coding grup pastinya akan mengharuskan anakmu bertemu dengan anak-anak lain. Pertemuan seperti ini jelas menjadikan anak memiliki banyak teman belajar sekaligus bermain. Mereka dapat belajar bagaimana caranya bersosial dengan orang lain yang memiliki minat yang sama. Selain itu, kelas coding grup secara umum juga mengajarkan anak belajar disiplin dan memiliki komitmen tinggi dalam mempelajari coding. Kelebihan Kelas Coding Grup Berikut ini adalah beberapa kelebihan lain dari kelas coding grup: Kekurangan Kelas Coding Grup Untuk anak yang kurang terbiasa dengan suasana ramai dan lebih senang belajar sendiri, kelas coding grup bukanlah pilihan terbaik. Apalagi untuk anak yang jam belajarnya sudah penuh dengan aktivitas sekolah dan program ekstrakurikuler. Selain itu, kelas coding grup juga menjadikan fokus mentor terbagi. Anak yang tidak mengerti materi coding tertentu terpaksa harus melewatkannya karena prosedur yang sudah terstruktur. Berikut ini adalah beberapa kekurangan kelas coding grup Kelebihan dan Kekurangan Kelas Coding 1-on-1 Selanjutnya, mari kita bahas kelebihan dan kekurangan kelas coding 1-on-1. Sesuai dengan namanya, kelas coding 1-on-1 hanya akan diikuti oleh satu orang mentor dan satu orang pelajar. Dalam model kelas coding ini, anak dapat mempelajari coding langsung dengan pendekatan yang lebih intens. mentor memiliki peran ganda dalam model kelas ini, dan peran itu adalah teman bagi si anak berpikir kritis, semangat, dan pantang menyerah. Kelebihan Kelas Coding 1-on-1 Berikut ini adalah beberapa kelebihan dari kelas coding 1-on-1: Kekurangan Kelas Coding 1-on-1 Secara garis besar, kekurangan kelas coding 1-on-1 berkutat pada dua poin penting. Dua poin penting itu adalah biaya yang mahal dan peluang networking yang kecil. Hal ini wajar mengingat kelas coding 1-on-1 mengharuskan kamu sudah memiliki komputer atau laptop coding yang mumpuni. Selain itu, kamu juga harus memastikan rumah memiliki koneksi internet yang stabil. Tidak adanya pertemuan dengan teman sekelas atau wali murid lainnya, juga menjadikan peluang networking mengecil. Berikut ini adalah beberapa kekurangan dari kelas coding 1-on-1: FAQ Kelas Coding Grup vs 1-on-1 1. Kapan Sebaiknya Orang Tua Memilih Kelas Coding 1-on-1 untuk Anak? Kelas coding 1-on-1 sangat cocok untuk anak yang membutuhkan perhatian belajar yang lebih personal dan intens. 2. Apakah Suasana Belajar Dapat Memengaruhi Minat Anak dalam Mempelajari Coding Sejak Dini? Tentu saja. Suasana belajar yang nyaman dan sesuai dengan karakter anak dapat membuat mereka lebih mudah memahami materi coding dan tidak cepat bosan. Kesimpulan Inilah penjelasan lengkap manakah yang lebih baik untuk anak, kelas coding grup atau kelas coding 1-on-1. Apabila kamu menginginkan proses belajar coding yang lebih intens dan dapat disesuaikan dengan kondisi anak, kelas coding 1-on-1 adalah pilihan terbaik. Namun, apabila kamu menginginkan proses belajar coding yang kompetitif dan memicu anak untuk membangun networkingnya sendiri, kelas coding grup adalah pilihan yang bijak. Apabila kamu berminat mendaftarkan anaknya ke Program Kelas Coding untuk Anak, Neon Bit adalah rekomendasi terbaik. Neon Bit sudah bekerja sama dengan banyak lembaga pendidikan ternama seperti Neutron Yogyakarta, IONs, Archimedes Academy, Integral Offset, dan lain-lain.Silakan daftar anak segera melalui program trial class gratis, atau konsultasi terlebih dahulu melalui nomor WhatsApp admin di 62 858‑2318‑6507.