Neon Bit

Global Cahaya Bangsa Integrasikan Coding dan Robotik dari SD hingga SMA Bersama Neon Bit

Kemitraan satu tahun ajaran menghadirkan pembelajaran teknologi berjenjang SD-SMA, dari computational thinking hingga coding dan robotik. SLEMAN, YOGYAKARTA – 27 Agustus 2026 – Global Cahaya Bangsa memperkuat pembelajaran teknologi bagi peserta didiknya melalui kemitraan pendidikan bersama Neon Bit, program pembelajaran coding dan AI dari PT Vortex Buana Edumedia. Pada Tahun Ajaran 2026/2027, Global Cahaya Bangsa mengintegrasikan pembelajaran coding dan computational thinking pada jenjang SD serta robotik pada jenjang SMP dan SMA melalui program intrakurikuler bersama Neon Bit. Kolaborasi tersebut melibatkan 71 siswa dalam lima kelas. Sebanyak 24 siswa SD mengikuti Kelas Logic dan Kelas Pixel, sementara 47 siswa SMP dan SMA terbagi dalam Kelas 7 Helix, Kelas 7 Cyber, dan Kelas 10 Nova. Program dirancang berlangsung selama dua semester dengan materi, perangkat pembelajaran, pendampingan mentor, serta evaluasi perkembangan siswa. Kepala SMP & SMA Global Cahaya Bangsa, Nur Wijayanto, mengatakan bahwa penguatan keterampilan teknologi menjadi bagian dari respons sekolah terhadap perubahan kebutuhan pendidikan. Sebagai sekolah yang mengedepankan pembelajaran AI, coding, dan STEAM, Global Cahaya Bangsa melihat kompetensi tersebut semakin penting untuk dipersiapkan sejak dini. “Dunia pendidikan perlu terus beradaptasi, khususnya dalam pembelajaran coding dan artificial intelligence. Kami melihat kompetensi tersebut menjadi kebutuhan yang semakin penting bagi siswa. Karena itu, kolaborasi dengan Neon Bit menjadi salah satu upaya kami untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengenal, memahami, dan mengembangkan keterampilan coding serta AI sejak dini,” ujar Kepala Sekolah Nur Wijayanto. Menurut Kepala Sekolah, pemilihan Neon Bit sebagai mitra berangkat dari kesesuaian fokus pembelajaran yang ditawarkan dengan kebutuhan sekolah. Global Cahaya Bangsa sebelumnya mengenal Neon Bit melalui expo di Yogyakarta dan melihat fokus Neon Bit dalam pembelajaran coding dan teknologi sebagai salah satu pertimbangan dalam membangun kerja sama. Program yang berlangsung selama satu tahun ajaran tersebut diharapkan tidak hanya memberikan pemahaman terhadap teknologi, tetapi juga membangun kemampuan siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan dan menghadapi kebutuhan di masa depan. “Kami berharap setelah lulus dari Global Cahaya Bangsa, siswa tidak hanya memahami pentingnya AI dan mampu melakukan coding, tetapi juga dapat mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan tersebut dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk menghadapi kebutuhan mereka di masa depan. Kami berharap kerjasama dengan Neon Bit dapat memberikan manfaat nyata bagi siswa sekaligus membantu orang tua mempersiapkan anak menghadapi perkembangan teknologi,” lanjut Kepala Sekolah Nur Wijayanto. Di sisi lain, Kepala SD Global Cahaya Bangsa, Erna Widyastuti, S.Si., M.Pd. Gr, berharap keterampilan yang diperoleh siswa dapat terus berkembang di luar kelas. Sekolah juga mendorong siswa untuk aktif mengikuti perlombaan coding dan robotik sebagai ruang untuk mengembangkan karya, menambah pengalaman, dan menguji kemampuan. “Dalam beberapa tahun ke depan, KKA akan menjadi bagian yang semakin penting dalam pendidikan. Sekolah yang mulai membangun fondasinya hari ini akan lebih siap membantu siswa beradaptasi dengan perubahan teknologi sekaligus memanfaatkannya secara produktif. Kolaborasi Neon Bit dengan Global Cahaya Bangsa menjadi salah satu bentuk implementasi itu, dengan pembelajaran teknologi yang ditempatkan dalam program intrakurikuler dan dirancang berjenjang dari SD hingga SMA. Tujuannya agar siswa tidak hanya mengenal coding dan AI sebagai konsep, tetapi juga mampu berpikir, bereksperimen, dan menciptakan solusi melalui teknologi.” Ahmad Syihabuddin Zankie, COO PT Vortex Buana Edumedia sekaligus perwakilan Neon Bit Kolaborasi antara Global Cahaya Bangsa dan Neon Bit ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran teknologi secara berjenjang dan berkelanjutan dari SD hingga SMA, mulai dari membangun fondasi berpikir komputasional hingga menerapkannya melalui coding, robotik, dan pengembangan proyek. Kemitraan ini menempatkan pembelajaran teknologi sebagai bagian dari program intrakurikuler sekolah, dengan pendekatan yang berjenjang dari penguatan computational thinking di SD hingga penerapan coding dan robotik berbasis proyek di SMP dan SMA. Sekolah dan institusi pendidikan yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai program Coding, Robotik, dan kemitraan sekolah bersama Neon Bit dapat mengunjungi bit.neon.id atau mengikuti Instagram @neonbit.id. Tentang Neon Bit Neon Bit merupakan program pembelajaran coding dan teknologi untuk anak usia TK hingga SMA yang dikembangkan oleh PT Vortex Buana Edumedia di Yogyakarta. Program Neon Bit dirancang sesuai tahap perkembangan dan kebutuhan belajar anak melalui pendekatan STEAM, Computational Thinking, dan Project-Based Learning. Pembelajaran dilakukan melalui eksplorasi, permainan, coding, serta pengembangan proyek teknologi agar siswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memahami cara kerjanya dan mampu menciptakan sesuatu dengan teknologi. Pendekatan tersebut diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir logis, kreativitas, problem solving, kolaborasi, serta keterampilan digital siswa. Artikel Ini Juga Dimuat di Kerja sama antara Neon Bit dan Global Cahaya Bangsa juga diberitakan oleh sejumlah media. Baca liputan selengkapnya melalui tautan berikut:

Neon Bit, Les Coding Anak di Jogja Terpercaya dengan Pembelajaran Project Based Learning

Les Coding Anak di Jogja

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, kemampuan coding mulai menjadi salah satu keterampilan yang penting dikenalkan kepada anak sejak dini. Coding tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membuat program, tetapi juga dapat membantu anak mengembangkan logika, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, dan cara berpikir sistematis. Karena itu, semakin banyak orang tua yang mulai mempertimbangkan kelas coding sebagai kegiatan belajar tambahan untuk anak. Di Yogyakarta, pilihan les coding anak juga semakin beragam, baik yang diselenggarakan secara offline maupun online. Setiap tempat memiliki kurikulum, metode pembelajaran, dan jenjang yang berbeda sehingga orang tua perlu memilih program yang sesuai dengan usia serta kebutuhan anak. Kelas coding yang tepat sebaiknya tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar melalui praktik dan proyek. Salah satu les coding anak di Jogja yang dapat dipertimbangkan adalah Neon Bit, program coding untuk anak dan remaja usia 4–18 tahun. Neon Bit menggunakan pendekatan Project Based Learning, sehingga anak dapat belajar coding sambil membuat berbagai proyek sesuai dengan jenjangnya. Materi pembelajaran juga disusun secara bertahap agar anak dapat mengembangkan keterampilannya dari konsep dasar hingga teknologi yang lebih kompleks. Lantas, apa saja yang dipelajari di Neon Bit dan bagaimana pembagian programnya berdasarkan usia? Artikel ini akan membahas program Neon Bit sebagai salah satu les coding anak Jogja, mulai dari jenjang pembelajaran, materi yang digunakan, hingga pendekatan belajar yang diterapkan untuk membantu anak mengenal coding dengan cara yang lebih menyenangkan. Apa itu Neon Bit? Neon Bit adalah program belajar coding yang dirancang untuk anak dan remaja usia 4–18 tahun. Program ini membantu anak mengenal coding secara bertahap melalui materi yang disesuaikan dengan usia dan kemampuan mereka. Tidak hanya berfokus pada teori, Neon Bit menggunakan pendekatan Project Based Learning, sehingga anak dapat mempraktikkan konsep coding dengan membuat berbagai proyek. Dengan pendekatan tersebut, proses belajar coding juga dapat menjadi sarana untuk mengembangkan kreativitas, logika, kemampuan berpikir sistematis, dan problem solving. Neon Bit tersedia dalam pilihan kelas offline di Yogyakarta maupun online, sehingga orang tua dapat memilih format pembelajaran yang paling sesuai dengan kebutuhan anak. Neon Bit dikembangkan dengan dukungan Neutron Yogyakarta, lembaga bimbingan belajar yang telah berpengalaman sejak 1993. Kolaborasi ini menggabungkan pengalaman Neutron dalam dunia pendidikan dengan pembelajaran coding yang relevan dengan perkembangan teknologi saat ini. Dengan pengalaman tersebut, program Neon Bit dirancang tidak hanya untuk mengenalkan coding, tetapi juga menghadirkan proses belajar yang terstruktur dan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Hal ini menjadi salah satu nilai tambah bagi orang tua yang sedang mencari les coding anak Jogja dengan pendekatan pembelajaran yang mengutamakan pengalaman belajar anak. Program Coding untuk Anak di Neon Bit Tersedia untuk Berbagai Usia Seperti yang sudah admin jelaskan sebelumnya, Neon Bit menyediakan program belajar coding untuk anak usia 4 – 18 tahun. Ini artinya Neon Bit menyediakan program belajar yang bersifat inklusif. Meskipun demikian, setiap rentang usia tertentu pastinya akan menerima materi belajar coding yang berbeda-beda. Berikut ini adalah fase usia anak dalam belajar coding di Neon Bit Pilihan Program Coding Anak di Neon Bit Sesuai Usia Neon Bit menyediakan program coding untuk anak dan remaja usia 4–18 tahun dengan materi yang disesuaikan berdasarkan tahap perkembangan dan kemampuan belajar. Pembagian jenjang ini penting karena anak usia dini tentu membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan remaja yang sudah siap mempelajari bahasa pemrograman. Setiap program dirancang agar anak dapat belajar secara bertahap, mulai dari mengenal konsep dasar coding hingga mengembangkan proyek dengan teknologi yang lebih kompleks. 1. Code & Tell — Usia 4–8 Tahun Pada tahap ini, anak mulai dikenalkan dengan konsep dasar computational thinking melalui ScratchJr. Anak belajar memahami urutan perintah, mengenali pola, dan membuat karakter melakukan tindakan tertentu. Pembelajaran dibuat sederhana dan visual agar anak dapat memahami konsep coding tanpa harus berhadapan dengan sintaks pemrograman yang kompleks. Melalui proyek sederhana, anak juga dapat mengekspresikan ide dan cerita mereka menggunakan teknologi 2. Code & Play — Usia 8–10 Tahun Anak pada jenjang ini mulai belajar coding menggunakan Scratch, platform pemrograman berbasis blok yang memungkinkan mereka membuat animasi, cerita interaktif, hingga game sederhana. Konsep seperti sequence, event, condition, dan loop mulai diperkenalkan melalui proyek yang lebih menantang. Anak juga didorong untuk bereksperimen dengan kode dan mencari solusi ketika proyek yang dibuat belum berjalan sesuai keinginan. 3. Code & Explore — Usia 10–15 Tahun Pada jenjang Code & Explore, anak mulai mengeksplorasi coding melalui Roblox Studio. Mereka dapat belajar membuat dan mengembangkan dunia virtual sekaligus mengenal konsep pemrograman yang lebih kompleks melalui Lua scripting. Pembelajaran tidak berhenti pada penggunaan Roblox sebagai permainan, tetapi mengarahkan anak untuk memahami bagaimana sebuah pengalaman atau game dapat dibangun menggunakan kode. Jenjang ini cocok bagi anak yang ingin mengeksplorasi coding melalui proyek yang lebih kompleks dan kreatif. 4. Code & Web — Usia 15–18 Tahun Untuk remaja, Neon Bit menyediakan Code & Web yang berfokus pada pengembangan website menggunakan HTML, CSS, dan JavaScript. Anak mulai mengenal struktur halaman web, mengatur tampilan, serta menambahkan interaksi melalui JavaScript. Pada tahap ini, pembelajaran coding menjadi lebih dekat dengan penerapan teknologi yang digunakan dalam dunia digital. Anak juga mulai dikenalkan dengan AI sebagai bagian dari perkembangan teknologi dan keterampilan digital masa kini. Keempat jenjang tersebut menunjukkan bahwa program Neon Bit tidak mengharuskan semua anak memulai dari materi yang sama. Anak dapat mengikuti program sesuai usia dan tahap kemampuannya, kemudian berkembang ke materi yang lebih kompleks seiring bertambahnya pengalaman. Pendekatan ini juga membuat proses belajar lebih relevan karena proyek dan teknologi yang digunakan disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak. Selain materi yang berbeda di setiap jenjang, pembelajaran Neon Bit menggunakan pendekatan Project Based Learning. Artinya, anak tidak hanya mempelajari konsep coding, tetapi juga menggunakannya untuk membuat proyek. Dengan demikian, proses belajar dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk melatih logika, kreativitas, problem solving, dan kemampuan berpikir sistematis sambil menghasilkan karya dari apa yang telah dipelajari. Bagi orang tua yang sedang mencari les coding anak di Jogja, pembagian program berdasarkan usia ini dapat menjadi salah satu hal yang perlu dipertimbangkan. Pilihan program yang tepat membantu anak mendapatkan materi yang sesuai dengan tahap belajarnya, sekaligus memberikan ruang untuk berkembang dari konsep coding dasar hingga keterampilan pengembangan web dan teknologi digital yang lebih kompleks.

Panduan Memilih Les Coding Anak Jogja!

Les Coding Anak Jogja

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, coding bukan lagi sekadar keterampilan untuk orang yang ingin menjadi programmer. Kemampuan ini mulai diperkenalkan kepada anak sebagai bagian dari pembelajaran teknologi sekaligus sarana untuk melatih logika, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah. Karena itu, tidak sedikit orang tua yang mulai mempertimbangkan les coding anak sebagai kegiatan belajar tambahan di luar sekolah. Bagi orang tua di Yogyakarta, pilihan les coding anak Jogja kini semakin beragam. Ada kelas yang dilakukan secara offline maupun online dengan metode, materi, jenjang usia, dan pendekatan pembelajaran yang berbeda. Banyaknya pilihan tersebut tentu menjadi keuntungan, tetapi juga bisa membuat orang tua bingung menentukan kelas coding yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan karakter anak. Memilih les coding untuk anak sebaiknya tidak hanya berdasarkan lokasi atau harga. Orang tua perlu mempertimbangkan beberapa hal, seperti kesesuaian materi dengan usia anak, metode pembelajaran, pengalaman pengajar, durasi belajar, hingga proyek yang akan dikerjakan selama kelas. Dengan memilih program yang tepat, anak dapat mengenal coding dengan cara yang menyenangkan tanpa merasa bahwa coding hanya sekadar pelajaran tambahan. Lantas, bagaimana cara memilih les coding anak di Jogja yang tepat? Artikel ini akan membahas beberapa hal penting yang perlu diperhatikan orang tua sebelum mendaftarkan anak ke kelas coding, mulai dari kurikulum, metode belajar, jenjang usia, hingga fasilitas yang ditawarkan. Dengan begitu, orang tua dapat lebih mudah menemukan kelas coding yang sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan anak. Mengapa Banyak Orang Tua Memilih Les Coding untuk Anak? Sebelum membahas lebih lanjut panduan memilih les coding tepercaya untuk anak, ada baiknya untuk Anda mengetahui alasan kuat mengapa mengikutsertakan anak ke les coding adalah pilihan yang bijak. Mengikutsertakan anak ke les coding akan menjadikan proses belajar anak lebih terarah, terstruktur, dan sistematis. Anak jadi tahu apa saja bagian yang belum ia pahami sepenuhnya dan memerlukan proses belajar lebih lanjut. Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa banyak orang tua memilih les coding untuk anaknya: Usia Berapakah Anak Bisa Mengikuti Les Coding? Tidak ada jawaban pasti untuk pertanyaan di atas. Tetapi, pada umumnya anak dapat mempelajari coding mulai usia 4 tahun. Tentu saja materi coding yang ia dapatkan tidak sama dengan materi coding yang didapatkan orang dewasa. Materi coding yang didapatkan oleh anak usia 4 tahun umumnya akan melibatkan aktivitas sederhana dan visual. Untuk anak, proses pembelajaran coding biasanya akan dibagi dalam tiga fase usia. Tiga fase usia itu adalah: Usia 4 – 6 Tahun Seperti yang sudah admin jelaskan sebelumnya, di usia ini anak akan mempelajari coding melalui aktivitas sederhana dan visual. Platform belajar yang digunakan biasanya adalah Scratch. Scratch adalah platform pembelajaran coding melalui pendekatan visual di mana anak dapat membuat game atau animasi sederhana hanya dengan menyusun blok perintah. Setiap blok perintah ini dapat diibaratkan seperti potongan puzzle yang harus disusun rapi. Usia 7 – 9 Tahun Memasuki usia 7–9 tahun, materi coding yang diberikan kepada anak mulai lebih kompleks. Anak tidak lagi hanya menyusun blok perintah, tetapi mulai belajar membuat animasi, cerita interaktif, hingga game sederhana menggunakan platform seperti Scratch dan Blockly. Pada fase ini, anak mulai belajar memahami hubungan antara perintah yang diberikan dengan hasil yang muncul pada proyek. Dengan begitu, kemampuan logika dan cara berpikir sistematis anak dapat dilatih secara bertahap. Usia 10 – 15 Tahun Fase selanjutnya, yakni usia 10 – 15 tahun, anak mulai mempelajari coding dengan materi yang jauh lebih kompleks. Anak akan mulai diperkenalkan dengan bahasa pemrograman berbasis teks seperti JavaScript atau Python. Di fase ini, anak sudah mulai dituntut untuk teliti dan fokus pada struktur sintaks yang baik. Apa Saja yang Dipelajari Anak Saat Les Coding? Les coding untuk anak tidak hanya mengajarkan cara menulis kode atau membuat program. Materi yang diberikan biasanya disesuaikan dengan usia dan tingkat kemampuan anak agar proses belajar tetap menyenangkan dan mudah dipahami. Anak dapat mulai mengenal konsep dasar coding melalui aktivitas sederhana, seperti menyusun perintah, membuat animasi, atau menjalankan karakter dalam sebuah permainan. Seiring bertambahnya kemampuan, anak dapat mempelajari konsep yang lebih kompleks, seperti logika pemrograman, algoritma, variabel, kondisi, dan perulangan. Materi tersebut membantu anak memahami bagaimana sebuah program bekerja dan bagaimana menyusun langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah. Dengan demikian, coding tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga melatih cara berpikir sistematis. Selain memahami konsep, anak juga perlu mendapatkan kesempatan untuk membuat proyek sendiri. Misalnya, anak dapat membuat game sederhana, animasi interaktif, cerita digital, atau website sesuai dengan jenjang pembelajarannya. Proyek seperti ini membuat anak dapat langsung menerapkan materi yang dipelajari sekaligus memberikan ruang untuk bereksperimen dengan ide mereka sendiri. Materi coding juga dapat berkembang sesuai dengan usia dan jenjang anak. Anak yang lebih kecil dapat memulai dari platform visual seperti ScratchJr atau Scratch, sedangkan anak yang lebih besar dapat berlanjut ke Roblox Studio, HTML, CSS, JavaScript, hingga mulai mengenal penggunaan AI dalam proses pengembangan. Karena itu, saat memilih les coding anak Jogja, orang tua sebaiknya memastikan materi dan jenjang pembelajaran sesuai dengan usia serta kemampuan anak. Tips Memilih Les Coding Anak di Jogja Saat memilih les coding anak di Jogja, orang tua sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan harga atau lokasi kelas. Perhatikan kesesuaian kurikulum dengan usia anak, metode pembelajaran yang digunakan, pengalaman pengajar, jumlah siswa dalam satu kelas, serta apakah anak mendapatkan kesempatan untuk membuat proyek secara langsung. Pilih program yang menggunakan pendekatan belajar yang menyenangkan agar anak tidak hanya memahami teori, tetapi juga terbiasa berpikir logis, kreatif, dan memecahkan masalah melalui coding. Pilih Kurikulum Sesuai Usia Tips pertama adalah dengan memastikan kurikulum yang berjalan di tempat les coding sesuai dengan usia anak. Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran coding untuk anak tidak terlalu sulit atau terlalu mudah. Utamakan Pembelajaran Berbasis Proyek Selanjutnya adalah dengan mengutamakan pembelajaran berbasis proyek atau project based learning. Selain menjadikan proses pembelajaran lebih seru, pendekatan ini menjadikan anak dapat mempraktikkan pemahaman coding yang didapatkan menjadi karya nyata. Memperhatikan Pengalaman Mentor Berikutnya adalah dengan memperhatikan pengalaman mentor. Pastikan mentor tidak hanya memiliki pengetahuan coding yang baik dan up to date, tapi juga terbiasa dengan dunia anak yang penuh dengan permainan. Mentor seperti ini tentu dapat menjadi teman baik anak selama belajar coding. Cek Ukuran dan Fasilitas Belajar yang Disediakan Ukuran kelas yang efektif

Apakah Belajar Coding Harus Pandai Matematika? Ini Penjelasannya

Belajar Coding dan Matematika

Banyak orang tua masih mengira bahwa anak harus pandai matematika terlebih dahulu sebelum mulai belajar coding. Anggapan ini cukup wajar karena coding memang banyak melibatkan logika, pola, angka, dan kemampuan memecahkan masalah yang juga sering ditemukan dalam pelajaran matematika. Akibatnya, anak yang merasa kurang percaya diri dengan matematika terkadang menjadi ragu untuk mencoba belajar coding. Lantas, apakah harus pandai matematika untuk belajar coding? Jawabannya, tidak selalu. Kemampuan matematika memang dapat membantu dalam mempelajari konsep coding tertentu, tetapi anak tidak harus menjadi ahli matematika untuk bisa mulai belajar coding. Justru, proses belajar coding dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk melatih kemampuan berpikir logis, menyusun langkah, dan memecahkan masalah secara bertahap. Dari sini, wajar jika ada anggapan jika ingin jago coding harus bisa matematika terlebih dahulu. Lantas, apakah anggapan ini benar adanya? Silakan simak baik-baik artikel ini untuk mendapatkan jawabannya! Apakah Belajar Coding Harus Pandai Matematika? Jawaban singkatnya, tidak harus. Mengapa? Karena matematika bukanlah syarat utama dalam proses belajar coding. Matematika hanyalah salah satu dari bagian yang akan diajarkan dalam coding. Di tahap awal, terutama bagi anak-anak maupun pemula, pembelajaran coding lebih banyak berfokus pada kemampuan berpikir logis, penyusunan langkah sistematis, serta pemecahan suatu masalah. Di tahap awal ini anak tidak langsung dihadapkan dengan konsep matematika dalam coding seperti aljabar, matematika diskrit, sistem biner, matriks, statistika, dan lain-lain. Sebagai contoh, anak yang berada di usia 4 – 8 tahun akan mempelajari coding melalui platform Scratch Jr. Platform ini tidak langsung mengajarkan anak rumus-rumus matematika rumit. Di platform ini anak hanya perlu menentukan urutan perintah agar karakter dapat bergerak, berbicara, atau melompat sesuai keinginan. Mengapa Coding Sering Dikaitkan dengan Matematika? Setelah mengetahui jawaban pasti bahwa anak yang jago coding tidak harus jago matematika dulu, beberapa dari Anda mungkin penasaran mengapa keduanya sering dikaitkan meski berbeda. Beberapa alasan mengapa coding sering dikaitkan dengan matematika antara lain sebagai berikut: Mengajarkan Bagaimana Caranya Berpikir Logis Baik coding maupun matematika, keduanya sama-sama mengajarkan cara berpikir logis. Keduanya mengajarkan kita melihat masalah besar lalu membaginya menjadi beberapa sub masalah. Sub masalah inilah yang kemudian diberikan solusi relevan satu per satu. Mengajarkan Cara Berpikir yang Sistematis Bukan hanya memecah masalah besar menjadi beberapa sub masalah, keduanya juga mengajarkan kita cara berpikir yang sistematis. Setiap sub masalah memiliki kesulitannya masing-masing. Terkadang, sub masalah B baru dapat diselesaikan apabila sub masalah A telah selesai. Contohnya dalam soal matematika yakni 10 + 5 x 2 – 4 = Soal ini dapat diketahui jawabannya apabila Anda menguraikannya menjadi beberapa submasalah seperti di bawah Tahap 1: Kerjakan perkalian dulu (5 x 2 = 10). Tahap 2: Lakukan penjumlahan dan pengurangan dari kiri (10 + 10 = 20). Tahap 3: Kurangkan hasilnya (20 – 4 = 16). Beberapa Bidang Coding Menggunakan Konsep Matematika Coding memang tidak selalu membutuhkan kemampuan matematika yang kompleks, tetapi beberapa bidang di dalamnya menggunakan konsep matematika secara lebih intensif. Misalnya, game development dapat memanfaatkan geometri, koordinat, dan perhitungan untuk mengatur posisi objek dalam permainan. Pada bidang data science dan artificial intelligence, konsep statistik, probabilitas, hingga aljabar dapat digunakan untuk mengolah dan menganalisis data. Sementara itu, computer graphics juga banyak memanfaatkan konsep matematika untuk membuat visual, animasi, dan pergerakan objek. Jadi, kebutuhan matematika dalam coding sangat bergantung pada bidang dan tingkat kompleksitas coding yang dipelajari. Kapan Matematika Dibutuhkan dalam Coding? Keterkaitan yang kuat antara matematika dan coding dapat dilihat dari banyak contoh pengembangan aplikasi, pengelolaan data, atau bahkan game. Berikut ini adalah beberapa proses coding yang di dalamnya membutuhkan konsep matematika: Pengembangan Game Ada banyak konsep matematika yang digunakan dalam proses pengembangan game. Contohnya seperti konsep koordinat (geometri) yang digunakan untuk menentukan posisi karakter, objek, atau titik di dalam game menggunakan koordinat X dan Y. Selain itu, konsep vektor juga sering diterapkan dalam pengembangan game 2D dan 3D. Artificial Intelligence dan Machine Learning Artificial intelligence dan machine learning adalah konsep teknologi yang dikembangkan agar komputer dapat mempelajari data secara otomatis. Dalam prosesnya, ada banyak konsep matematika yang bisa Anda temukan.  Contohnya seperti statistika yang digunakan untuk memahami data, mengukur performa model, menghitung rata-rata, distribusi, dan lain sebagainya. Selain itu, ada juga konsep kalkulus yang digunakan untuk mengurangi kesalahan prediksi. Data Science Selanjutnya ada data science. Data science adalah ilmu terapan yang menggabungkan matematika, statistika, dan ilmu komputer. Ilmu ini sering digunakan untuk mendapatkan informasi valid sebagai pengambilan keputusan matang dalam bisnis. Di dalamnya, akan banyak bertemu dengan berbagai konsep matematika seperti probabilitas dan statistika deskriptif. Selain itu, Anda juga akan belajar bagaimana caranya menyajikan data matematika dalam bentuk visual yang mudah dipahami. Pengembangan Website Berbeda dengan pengembangan game, pengembangan website umumnya tidak membutuhkan konsep matematika yang rumit. Programmer biasanya hanya menggunakan operasi hitung dasar seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, atau pembagian ketika diperlukan, misalnya untuk menghitung harga, menentukan persentase, maupun mengatur ukuran elemen pada halaman website. Keterampilan yang Sebaiknya Lebih Diutamakan Ketika Belajar Coding Memiliki pemahaman matematika yang baik memang bagus untuk membantu proses belajar coding. Tetapi, ada keterampilan lain yang dapat diutamakan ketika mempelajari coding, terlebih jika proses belajar tersebut ditujukan untuk anak-anak.  Keterampilan lain yang dimaksud seperti: 1. Berpikir Logis Keterampilan ini dapat dilatih meski tanpa soal matematika sekalipun. Dalam coding, keterampilan ini akan sangat berguna dalam menentukan urutan instruksi yang tepat agar program berjalan. 2. Problem Solving Keterampilan kedua ini berjalan beriringan dengan keterampilan pertama. Melalui pemahaman problem solving yang baik, seorang programmer tidak hanya mampu memahami penyebab masalah, tetapi juga mampu merancang kode yang dapat menyelesaikan serta mencegah masalah yang sama datang kembali. 3. Ketelitian Kesalahan kecil dalam kode dapat membuat program tidak berjalan, sehingga ketelitian sangat diperlukan. Memeriksa kembali setiap instruksi dan bagian kode membantu mengurangi kesalahan saat program dijalankan. 4. Kreativitas Kreativitas membantu menghasilkan animasi, game, website, atau aplikasi yang menarik. Anak juga dapat menggunakan kreativitasnya untuk menentukan ide, tampilan, serta cara kerja proyek coding yang dibuat. 5. Kemauan untuk Terus Belajar Perkembangan teknologi yang cepat menuntut seseorang untuk terus belajar dan mengikuti perubahan. Kemauan belajar juga membantu programmer memahami bahasa pemrograman, tools, dan teknologi baru yang terus berkembang. Bagaimana Coding Diajarkan Kepada Anak? Pembelajaran coding untuk anak tentu akan berbeda dengan pembelajaran coding bagi orang

Berapakah Usia yang Tepat untuk Anak Belajar Coding? Pelajari Lengkap di Sini!

Anak Belajar Coding

Anak belajar coding bukan hanya mampu memahami dasar-dasar pemrograman, tetapi juga dapat menghasilkan karya yang diakui secara global. Hal ini dibuktikan oleh Max yang berhasil mencetak rekor dunia di usia yang masih sangat muda. Pencapaiannya menunjukkan bahwa usia bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan dalam belajar coding. Bocah 11 tahun bernama Max secara resmi memegang Guinness World Record sebagai anak yang menjadi pengembang game paling muda di dunia.Dalam prosesnya, Max hanya membutuhkan waktu empat jam untuk mengembangkan video gamenya sendiri. Diawasi oleh profesional, Max bekerja tanpa menggunakan bantuan atau dukungan apapun. Di Indonesia, kita bisa menemukan bocah hebat lainnya yang juga berusia 11 tahun. Bocah itu bernama Able yang berhasil membuat game controller dari kardus dan keyboard. Anda dapat melihat bagaimana kejeniusan Able dalam mengembangkan gamenya sendiri melalui akun TikTok @/the.marestro. Dari Max dan Able, kita dapat memahami bahwa untuk mengembangkan game tidak harus menunggu dewasa terlebih dahulu. Anak-anak pun juga bisa melakukannya asalkan memiliki pemahaman coding yang kuat. Max dan Able mengajarkan kita bahwa usia belia bukanlah halangan. Lalu, apakah semua anak dapat mempelajari coding saat usia mereka masih 11 tahun? Berapakah usia ideal untuk anak mulai belajar coding? Silakan simak baik-baik artikel ini untuk mendapatkan jawabannya! Apakah Anak Bisa Belajar Coding Sejak Usia Dini? Jawabannya tentu saja bisa. Namun, materi coding serta metode belajar yang diterapkan harus disesuaikan dengan fase usia anak. Anak yang berada di usia dini, misal 4-8 tahun, tentu saja tidak akan mendapatkan materi coding yang rumit atau diarahkan untuk langsung bisa mengetik barisan kode terstruktur menggunakan python.  Metode belajar yang diterapkan fokus pada pemahaman masalah yang baik, mengurutkan langkah sebagai solusi masalah, memecahkan puzzle, mengenali pola sederhana, dan lain-lain melalui metode belajar sambil bermain yang menyenangkan. Berapakah Usia Ideal untuk Anak Belajar Coding? Sampai saat ini, belum ada literatur yang mengatakan usia ideal untuk anak belajar coding. Semua itu tergantung pada banyak faktor, mulai dari faktor kondisi anak, materi, dan metode belajar yang diterapkan. Namun, secara umum anak yang ingin belajar coding akan dibagi menjadi empat fase usia. Fase tersebut adalah: Apa Saja Manfaat Belajar Coding Sejak Dini? Selain dapat membantu anak secara tidak langsung melatih kemampuan literasi digitalnya, belajar coding untuk anak juga memiliki banyak manfaat lain. Berikut ini adalah beberapa manfaat lainnya: Silakan baca artikel di bawah ini untuk mengetahui lebih lengkap apa saja manfaat belajar coding untuk anak! Baca Juga: 7 Manfaat Belajar Coding untuk Anak yang Terbukti Ilmiah Bagaimana Memulai Belajar Coding untuk Anak? Pertanyaan berikutnya yang mungkin muncul dalam benak Anda sebagai orang tua, adalah bagaimana memulai belajar coding untuk anak. Anda bisa memulai proses belajar coding ini dari aktivitas sederhana yang sesuai dengan usia dan minat anak.  Berikut ini adalah beberapa tips dan trik memulai belajar coding untuk anak Mengapa Belajar Coding Perlu Disesuaikan dengan Usia Anak? Setiap tahap perkembangan anak memiliki kemampuan berpikir yang berbeda. Anak yang berada di usia 4 – 8 tahun, pada umumnya tidak memiliki kemampuan berpikir logis seperti anak yang usianya lebih tua. Oleh sebab itu, materi coding yang didapatkan di setiap fase usia perkembangan anak akan berbeda-beda. Lalu, apa jadinya jika materi coding tidak disesuaikan dengan usia anak? Tiga alasan ini sebenarnya sudah cukup untuk menyakinkan Anda mengikutsertakan anak ke kelas coding khusus. Belajar coding di kelas coding akan membantu anak mendapatkan proses belajar yang lebih efektif. Tips Memilih Kelas Coding Terbaik untuk Anak Setelah mengetahui bahwa sekolah coding lebih efektif untuk mendukung proses belajar coding anak, beberapa dari Anda mungkin bertanya-tanya tentang bagaimana cara memilih sekolah yang baik. Berikut ini adalah beberapa tips dan triknya: Nah, di Neon Bit, anak mempelajari coding berdasarkan empat fase usia. Empat fase usia itu adalah 4 – 8 tahun, 8 – 10 tahun, 10 – 15 tahun, dan 15 – 18 tahun. Berikut ini adalah penjelasannya: Neon Bit – Kelas Coding Terbaik untuk Anak  Belajar coding bersama orang tua memang jadi salah satu pilihan terbaik untuk anak. Anak dapat mempelajari konsep dasar pemrograman melalui video, game edukatif, atau proyek sederhana di rumah tanpa merasa tertekan. Selain itu, aktivitas ini juga dapat mempererat bonding antara orang tua dan anak. Sayangnya, metode belajar seperti ini tidak selalu dapat diandalkan. Terlebih jika materi coding yang dipelajari semakin kompleks. Orang tua tentu akan sangat kesulitan menyusun materi belajar yang sistematis, mulai dari tingkatan paling mudah, sedang, hingga sulit. Belum lagi tantangan untuk dapat menyesuaikan materi coding dengan usia anak. Materi coding yang bertebaran di internet masih harus dipilah oleh orang tua. Tentu ini akan jadi PR besar apalagi untuk orang tua yang kurang familiar dengan coding. Lalu, bagaimana solusi untuk mengatasi masalah ini? Di sinilah peran kelas atau sekolah coding diperlukan. Di sekolah coding, anak dapat mempelajari materi coding yang sesuai dengan perkembangan usia dan juga tren industri. Selain itu, metode belajar yang diterapkan juga dapat memudahkan orang tua mendapatkan gambaran pencapaian yang telah diraih anak. Metode belajar yang diterapkan umumnya adalah Project Based Learning. Metode ini memungkinkan anak belajar melalui pembuatan proyek nyata, seperti game, animasi, website sederhana, maupun aplikasi interaktif. Pendekatan ini membantu mereka memahami konsep coding sekaligus mengembangkan kreativitas dan kemampuan menyelesaikan masalah. Neon Bit, menjadi salah satu sekolah coding anak terbaik yang telah menerapkan pendekatan seperti ini. Anda dapat melihat keseruan anak mempelajari coding di Neon Bit melalui website resminya. Neon Bit menjadi salah satu kursus coding anak yang telah menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning). Melalui metode ini, anak tidak hanya belajar memahami konsep coding, tetapi juga menerapkannya untuk membuat game, animasi, website, hingga proyek digital lainnya sesuai dengan usia dan kemampuannya. Kurikulum yang digunakan dirancang secara bertahap sehingga cocok diikuti oleh pemula maupun anak yang ingin mengembangkan keterampilan teknologi lebih jauh. Selain mengasah kemampuan teknis, setiap proyek juga membantu anak melatih kreativitas, logika berpikir, dan kemampuan memecahkan masalah. Anda dapat melihat keseruan proses belajar coding di Neon Bit sekaligus mengenal program-program yang tersedia melalui website resminya. Kesimpulan Inilah penjelasan lengkap mengenai pertanyaan berapa usia yang tepat untuk anak dapat belajar coding. Perlu diketahui bahwa tidak ada usia yang tepat untuk anak mulai belajar coding. Anak dapat dikenalkan dengan coding apabila materi

Coding untuk Anak: Bahasa Pemrograman & Platform Belajar Coding Khusus Pemula

Seiring berkembangnya teknologi, kemampuan coding pun semakin dibutuhkan sebagai bekal menghadapi era digital. Mengetahui platform belajar coding khusus pemula menjadi solusi bagi siapa saja yang ingin mulai mempelajari dunia pemrograman, termasuk orang tua yang ingin mulai mengenalkan coding sejak dini pada anaknya. Materi yang disusun secara bertahap, mempermudah pemula dapat memahami konsep dasar coding tanpa harus langsung menghadapi bahasa pemrograman yang kompleks. Kemampuan memahami dasar-dasar pemrograman tidak lagi hanya dibutuhkan oleh calon programmer, tetapi juga menjadi bekal untuk menghadapi berbagai peluang di era digital. Namun, banyak pemula yang masih bingung harus memulai dari mana. Apakah belajar coding berarti langsung membuat aplikasi atau website? Atau justru mempelajari bahasa pemrograman tertentu terlebih dahulu? Faktanya, sebagian besar orang memulai perjalanan belajar codingnya dengan project coding yang sederhana. Dari contoh-contoh tersebut, mereka dapat memahami cara kerja bahasa pemrograman, melatih logika berpikir, hingga membangun fondasi sebelum mengembangkan proyek yang lebih kompleks. Lantas, apa saja contoh coding yang umum dipelajari oleh pemula khususnya anak-anak? Simak pembahasannya pada artikel berikut. Mengenalkan Coding pada Anak melalui Platform Belajar Coding khusus Pemula Sebelum membahas apa saja contoh coding yang umumnya dipelajari oleh pemula, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu apa itu coding. Coding adalah proses menuliskan serangkaian instruksi agar komputer dapat menjalankan tugas tertentu. Instruksi ini diberikan dengan menggunakan bahasa pemrograman yang mudah dimengerti oleh komputer. Instruksi yang diberikan tidak selalu identik dengan sintaks yang rumit. Untuk anak-anak, instruksi ini sering kali digambarkan dalam bentuk visual melalui aplikasi belajar coding untuk anak. Hal ini dimaksudkan agar anak lebih memahami konsep logika pemrograman sederhana sebelum benar-benar memasuki materi bahasa pemrograman profesional. Ada banyak contoh coding yang mudah dipelajari dari berbagai platform atau bahasa pemrograman. Di dalam artikel ini, admin memberikan contohnya dari lima platform atau bahasa pemrograman, dimulai dari: Scratch Scratch adalah platform coding yang mengandalkan pendekatan visual di mana pengguna dapat memberikan perintah kepada komputer melalui teka-teki blok. Platform coding sangat bersahabat untuk mereka yang ingin belajar coding terutama dari usia dini. Dari platform ini, anak dapat membuat animasi, cerita interaktif, hingga permainan sederhana. Tidak heran jika Scratch selalu menjadi andalan untuk anak belajar coding. Blockly Berikutnya ada Blockly. Sama seperti sebelumnya, Blockly adalah platform belajar coding yang ramah anak. Platform ini memungkinkan anak untuk dapat membuat program dari blok visual yang harus disusun sesuai target. Perbedaannya adalah hasil susunan blok visual tersebut berupa bahasa pemrograman seperti JavaScript atau Python. Platform ini dapat membantu anak memahami baik struktur logika program. HTML (HyperText Markup Language) HTML adalah bahasa markup (bukan bahasa pemrograman) yang digunakan untuk membuat struktur website. Anda yang ingin menjadi web developer atau web designer wajib menguasai bahasa markup ini. Melalui pemahaman HTML yang baik, Anda dapat dengan mudah membuat tabel atau halaman website sederhana. Berikut ini adalah contoh coding sederhana yang umumnya akan Anda pelajari dalam HTML: <h1>Hello World!</h1> <p>Ikuti Kursus Coding Lengkap untuk Anak, Hanya di<a href=”https://bit.neon.id/”>Neon Bit</a></p> CSS (Cascading Style Sheets) Sama seperti sebelumnya, CSS tidak termasuk ke dalam bahasa pemrograman murni. CSS termasuk ke dalam kategori bahasa markup yang fungsinya khusus menjadikan tampilan struktur HTML lebih menarik. Melalui CSS, pengguna dapat mengubah warna, ukuran teks, jenis font, tata letak, hingga menjadikan tampilan website lebih menarik dan responsif. Berikut ini adalah contoh coding CSS sederhana: </> CSS h1 { color: blue: } JavaScript Selanjutnya ada JavaScript. Berbeda dengan dua bahasa website sebelumnya, JavaScript dapat dikategorikan sebagai bahasa pemrograman murni. JavaScript ditujukan agar website mampu menampilkan fungsi atau fitur yang dinamis serta fleksibel. Dibuat pertama kali pada tahun 1995 oleh Brendan Eich, JavaScript hingga kini masih digunakan sebagai bahasa pemrograman paling penting yang wajib dipelajari oleh calon programmer. Berikut ini adalah contoh coding JavaScript sederhana: </> JavaScript alert(“Selamat belajar coding di Neon Bit!”); Python Terakhir ada Python. Dapat dikatakan bahwa Python menjadi bahasa pemrograman yang paling populer di dunia saat ini. Data dari Ditekindo tahun 2026 menerangkan bahwa tingkat kepopuleran Python mencapai angka 29,9%, lebih tinggi daripada 9 bahasa pemrograman lainnya termasuk JavaScript dan Java. Mengapa? Alasannya, sintaksnya sederhana dan mudah dibaca. Kesederhanaan inilah yang menjadikan Python sering digunakan untuk pengembangan aplikasi, analisis data, hingga aplikasi AI. Berikut ini adalah contoh coding sederhana yang umumnya dipelajari dalam Python </> Python print(“Halo, Dunia!”) Contoh Project Coding Sederhana untuk Anak Setelah mengetahui apa saja contoh coding sederhana dari 6 platform dan pilihan bahasa pemrograman, Anda mungkin jadi bertanya-tanya tentang proyek coding sederhana apakah yang dapat dipelajari terlebih dahulu, terutama untuk anak-anak. Tidak perlu khawatir, berikut ini adalah beberapa contoh proyek coding sederhana untuk anak yang bisa dijadikan referensi: Mengapa Coding Sebaiknya Dipelajari Secara Bertahap? Coding bukanlah sesuatu yang sulit dipelajari, terlebih jika metode belajar yang diterapkan tepat sasaran. Salah satu kesalahan besar mengapa coding terasa sulit dipelajari adalah coding dipelajari tidak secara bertahap. Mempelajari coding tanpa tahapan yang jelas, terlebih untuk anak-anak, jelas akan menjadikan materi coding sulit ke dalam kepala. Berikut ini adalah tahapan belajar coding yang umum untuk pemula: Pendekatan yang bertahap tentu akan memudahkan anak memahami konsep dasar dan lebih siap untuk menerima materi coding lain yang lebih kompleks. Belajar Coding untuk Anak Akan Lebih Mudah dengan Pendampingan Mentor Selain belajar coding secara bertahap, anak-anak akan lebih mudah memahami materi coding apabila didampingi oleh mentor yang profesional, kompeten, dan mengerti dunia anak. Kehadiran mentor dapat membantu anak memahami konsep coding yang sulit dan memicu pola pikir kompetitif serta kreativitas anak. Pendampingan oleh mentor juga akan memastikan proses belajar anak sesuai dengan kebutuhan atau tren industri terbaru. Anak dan orang tua dapat dengan mudah mengukur kemampuan pemahaman coding yang sudah didapatkan. Anda bisa mendapatkan pendampingan mentor coding profesional, kompeten, dan mengerti dunia anak ini di lembaga kursus coding anak, Neon Bit. Kesimpulan Ada banyak contoh coding sederhana yang bisa dipelajari oleh pemula termasuk anak-anak. Perlu diketahui bahwa masing-masing platform coding atau bahasa pemrograman memiliki fungsi serta tingkat kesulitannya masing-masing. Bagi anak usia dini platform coding yang disarankan adalah Scratch dan Blockly. Kedua platform coding ini dapat membantu anak memahami struktur logika pemrograman yang baik. Jika Anda sedang mencari kelas coding anak yang berkualitas, Neon Bit siap membantu anak membangun keterampilan digital sejak dini. Program ini

Holiday Camp Neon Bit Ajak 31 Anak Isi Liburan dengan Belajar Coding Berbasis Proyek Digital

Holiday Camp Coding Class 2026 diikuti oleh peserta berusia 4–15 tahun dari Yogyakarta dan berbagai kota lainnya. Anak-anak dilatih untuk mengembangkan kemampuan computational thinking dan problem solving melalui kegiatan pembuatan game serta animasi interaktif. Yogyakarta, 15 Juli 2026 — Neon Bit, penyedia program pembelajaran coding dan AI untuk anak, menyelenggarakan Holiday Camp Coding Class 2026 yang diikuti 31 peserta berusia 4–15 tahun. Peserta berasal dari Yogyakarta maupun berbagai kota di Indonesia. Diselenggarakan dalam dua batch, Holiday Camp Coding Neon Bit dibagi dalam dua kelas, offline dan online. Program yang dilaksanakan selama liburan sekolah ini, bertujuan untuk mengembangkan kreativitas, computational thinking, dan kemampuan problem solving anak melalui metode project-based learning. Mengusung konsep belajar melalui proyek nyata, Holiday Camp menghadirkan dua tema berbeda di setiap batch: Batch 1 bertema Dinosaur dan Batch 2 bertema Volcano. Melalui kedua proyek tersebut, peserta belajar menyusun logika, memecahkan masalah, dan menghasilkan karya digital berupa game maupun animasi interaktif. Pembelajaran dibagi ke dalam tiga kelas sesuai jenjang usia dan kemampuan: Code & Tell (4–8 tahun) untuk mengenal konsep dasar coding melalui cerita interaktif, Code & Play (8–15 tahun) untuk membuat animasi dan game sederhana, serta Code & Explore (10–15 tahun) untuk mengembangkan game dan desain 3D. Setiap kelas dirancang bertahap agar anak dapat belajar sesuai tingkat perkembangannya. Di akhir program, setiap peserta mempresentasikan hasil proyeknya — melatih rasa percaya diri sekaligus kebiasaan berpikir sistematis. Debby Aruni, Program Advisor Neon Bit, menekankan bahwa coding tidak seharusnya dipandang sebagai pelajaran rumit yang hanya untuk orang dewasa. “Di Neon Bit, kami percaya belajar coding bukan sekadar mempelajari bahasa pemrograman, tetapi membangun cara berpikir yang bermanfaat bagi anak di masa depan. Dengan metode project-based learning yang dekat dengan dunia anak — membuat game, animasi, dan tantangan interaktif — orang tua bisa melihat bahwa coding adalah sarana melatih logika, kreativitas, dan problem solving sejak dini. Ke depan, Neon Bit akan terus mengembangkan program coding dan AI yang makin mudah diakses lebih banyak anak Indonesia, baik melalui kelas reguler, Holiday Camp, maupun kolaborasi bersama sekolah.”— Debby Aruni, Program Advisor, Neon Bit Dampak program turut dirasakan orang tua peserta. Bunda dari Althaf, peserta Batch 1, melihat perubahan antusiasme anaknya. “Awalnya Althaf tertarik belajar Roblox Studio karena sudah mencoba sendiri di rumah. Setelah mengikuti Holiday Camp, dia jadi lebih semangat dan makin banyak bereksplorasi. Menurut saya, daripada anak hanya bermain game, lebih baik diarahkan untuk membuat game mereka sendiri.”— Bunda dari Althaf, orang tua peserta Batch 1 Sementara itu, Bunda dari Rafka, peserta Batch 2, mengungkapkan bahwa program ini membuka perspektif baru soal manfaat coding. “Awalnya kami ingin mengisi liburan dengan kegiatan bermanfaat sekaligus mengenalkan coding. Setelah mengikuti Holiday Camp, kami memahami bahwa coding bukan sekadar membuat game, tetapi juga melatih logika, penalaran, dan kreativitas melalui proses belajar yang menyenangkan.”— Bunda dari Rafka, orang tua peserta Batch 2 Holiday Camp Coding Class 2026, hadir di tengah penguatan literasi digital pada pendidikan Indonesia. Melalui Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, pemerintah telah mengarahkan pengenalan coding dan kecerdasan artifisial sebagai bagian dari pembelajaran sekolah. Dalam konteks ini, format berbasis proyek seperti Holiday Camp menjadi jalur yang relevan — memperkenalkan computational thinking melalui pengalaman langsung yang kontekstual, bukan sekadar teori. Pendekatan ini menempatkan anak bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi sebagai kreator yang mampu menghasilkan karya. Orang tua yang ingin mengetahui informasi mengenai Coding Class, Holiday Camp, maupun program kolaborasi sekolah bersama Neon Bit dapat mengunjungi bit.neon.id atau mengikuti akun Instagram @neonbit.id. Tentang Neon Bit Neon Bit merupakan penyedia program pembelajaran coding dan AI untuk anak yang menghadirkan pengalaman belajar melalui pendekatan project-based learning. Dengan mengedepankan aktivitas yang dekat dengan minat anak, Neon Bit membantu peserta mengembangkan computational thinking, kreativitas, problem solving, dan literasi digital melalui kelas reguler, holiday camp, workshop, serta program kolaborasi dengan sekolah.

Neon Bit & Sekolah Tumbuh Berkolaborasi Menghadirkan Mini Workshop Coding dalam Event “The End of Year Celebration – Seed of Learning”

Neon Bit & Sekolah Tumbuh Berkolaborasi Hadirkan Mini Workshop Coding dengan Roblox Studio dalam Event “The End of Year Celebration - Seed of Learning”

Kolaborasi Neon Bit dengan Sekolah Tumbuh dirancang untuk menghadirkan pengalaman belajar yang inklusif sesuai keunikan & potensinya melalui Mini Workshop Coding. Yogyakarta, 12 Juni 2026 — Sekolah Tumbuh menyelenggarakan The End of Year Celebration (TEoYC) “Seed of Learning” pada 11–12 Juni 2026 di Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta. Mengusung semangat merayakan proses belajar setiap anak, kegiatan ini menghadirkan berbagai pertunjukan, pameran karya siswa, aktivitas komunitas, hingga Mini Workshop Coding dengan Roblox Studio bekerja sama dengan Neon Bit sebagai salah satu pengalaman belajar interaktif bagi siswa dan keluarga. Dalam workshop tersebut, peserta diajak mengenal dasar-dasar coding melalui Roblox Studio, platform yang memungkinkan anak belajar menyusun logika, berkreasi, dan mengembangkan ide menjadi proyek digital sederhana. Pendekatan ini dirancang agar coding dapat dipelajari secara bertahap melalui eksplorasi dan praktik langsung, sehingga menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus mudah diikuti oleh anak dengan beragam karakter dan kemampuan. Selama dua hari penyelenggaraan, The End of Year Celebration “Seed of Learning” dihadiri sekitar 400 pengunjung yang terdiri dari siswa, orang tua, guru, dan masyarakat. Antusiasme terhadap Mini Workshop Roblox Studio terlihat dari tingginya minat keluarga yang ingin mengenal lebih jauh program pembelajaran Neon Bit. Sebanyak 33 keluarga meminta informasi lanjutan mengenai program yang tersedia, sementara 14 anak mengikuti kelas percobaan (trial class) untuk merasakan secara langsung pengalaman belajar coding bersama Neon Bit. Faudyan Eka Satria, S.Ant., M.A., Penanggung Jawab Koordinasi Hubungan Eksternal sekaligus Panitia The End of Year Celebration Tumbuh High School 2026, mengatakan bahwa kehadiran Neon Bit selaras dengan semangat Sekolah Tumbuh dalam menghadirkan pengalaman belajar yang menghargai keberagaman.  “Sebagai sekolah yang mengusung nilai Inclusive–Multicultural, kami percaya setiap anak memiliki potensi dan cara belajar yang berbeda. Kehadiran Neon Bit memberikan ruang bagi anak-anak untuk mencoba pengalaman baru yang dekat dengan keseharian mereka. Antusiasme yang ditunjukkan siswa selama workshop membuktikan bahwa ketika diberikan kesempatan untuk bereksplorasi, mereka mampu menunjukkan rasa ingin tahu, kreativitas, dan keberanian untuk mencoba hal-hal baru. Harapan kami, kolaborasi seperti ini dapat terus menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna bagi setiap anak.” – Faudyan Eka Satria, S.Ant., M.A., Penanggung Jawab Koordinasi Hubungan Eksternal sekaligus Panitia The End of Year Celebration Tumbuh High School 2026 Bagi Neon Bit, kolaborasi ini menjadi bagian dari komitmen menghadirkan pembelajaran coding yang dapat diakses oleh lebih banyak anak melalui pendekatan yang inklusif. “Kami percaya coding bukan hanya tentang teknologi, melainkan tentang cara anak belajar berpikir, berkreasi, dan memecahkan masalah. Karena itu, kurikulum Neon Bit dirancang berdasarkan tahap perkembangan anak usia 4–18 tahun sehingga setiap siswa dapat belajar sesuai dengan kebutuhannya. Kolaborasi dengan Sekolah Tumbuh menjadi sangat berarti karena kami memiliki visi yang sama bahwa pendidikan harus membuka kesempatan yang setara bagi setiap anak untuk tumbuh dan menemukan potensinya,” – Ahmad Zankie, COO Vortex sekaligus perwakilan Neon Bit. Kegiatan ini berlangsung di tengah penguatan literasi digital dalam pendidikan Indonesia. Melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 13 Tahun 2025, pemerintah mendorong pengenalan coding dan kecerdasan artifisial sebagai bagian dari pembelajaran di sekolah. Kolaborasi antara Sekolah Tumbuh dan Neon Bit menunjukkan bagaimana kebijakan tersebut dapat diwujudkan melalui pengalaman belajar yang kontekstual, inklusif, dan menyenangkan, sehingga anak-anak dapat mengenal teknologi sebagai sarana untuk berkreasi, berkolaborasi, dan mengembangkan potensi dirinya. Sebagai lembaga pendidikan Coding & AI di bawah naungan Neutron Yogyakarta, Neon Bit terus menghadirkan program pembelajaran yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak usia 4–18 tahun. Kolaborasi dengan Sekolah Tumbuh menjadi bagian dari upaya memperluas akses pembelajaran coding di lingkungan sekolah yang menjunjung tinggi keberagaman, sehingga semakin banyak anak memperoleh kesempatan untuk belajar melalui pendekatan yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan mereka. Kunjungi Neon Bit untuk informasi lengkap program kelas coding anak di Jogja Tentang Sekolah Tumbuh Sekolah Tumbuh merupakan sekolah inklusif yang berkomitmen menghadirkan pendidikan yang menghargai keberagaman serta mendukung tumbuh kembang setiap anak sesuai potensi dan kebutuhannya. Berlandaskan nilai Inclusive–Multicultural, Jogja Educational Spirit, dan Keistimewaan Kampus, Sekolah Tumbuh menciptakan lingkungan belajar yang aman, terbuka, dan kolaboratif bagi siswa dari berbagai latar belakang. Tentang Neon Bit Neon Bit adalah lembaga pendidikan Coding & AI di bawah naungan Neutron Yogyakarta. Neon Bit menyediakan program coding & ai untuk anak usia  usia 4–18 tahun (TK hingga SMA) dengan kurikulum yang disesuaikan berdasar tahap perkembangan anak. Melalui proyek digital interaktif, Neon Bit memastikan anak dapat mengembangkan keterampilan teknologi, kreativitas, hingga problem solving. 

SD Intis School Yogyakarta Gandeng Neon Bit Hadirkan Unplugged Learning untuk 20 Siswa Kelas 1 SD

Seminar Parenting Kerja Sama Neon Bit dan SD Intis School

Anak-Anak Belajar Logika dan Problem Solving Tanpa Gadget, Sembari 52 Orang Tua Mengikuti Seminar Parenting Yogyakarta, 13 Juni 2026 — SD Intis School Yogyakarta menggelar Seminar Parenting bersama 52 orang tua siswa kelas 1, sembari menghadirkan Mini Workshop Unplugged Learning bekerja sama dengan Neon Bit untuk 20 siswa kelas 1 SD. Format paralel ini memungkinkan orang tua fokus mengikuti seminar, sementara anak-anak memperoleh pengalaman belajar berpikir komputasional melalui aktivitas yang sesuai tahap perkembangan mereka. Dalam workshop, 20 siswa kelas 1 SD mengikuti aktivitas unplugged learning — pengenalan konsep dasar computational thinking tanpa perangkat digital. Melalui tantangan logika, permainan edukatif, dan worksheet yang dirancang sesuai usia, anak-anak belajar mengenali pola, menyusun langkah berurutan, dan menemukan solusi atas suatu permasalahan. Pendekatan ini menjadikan coding sebagai cara berpikir, bukan sekadar keterampilan menggunakan gadget. Mr. Zen Muhammad Alfaruq, Ketua Panitia Seminar Parenting SD Intis School Yogyakarta, menyampaikan alasan sekolah memilih Neon Bit sebagai mitra kegiatan. “Kami memilih Neon Bit karena pendekatannya menjawab kekhawatiran banyak orang tua soal gadget, bukan melarang, tapi mengarahkan teknologi menjadi produktif lewat coding dan AI. Workshop ini juga memungkinkan kami menyamakan visi rumah dan sekolah: sementara orang tua fokus di seminar, anak-anak tetap mendapat pengalaman belajar yang bermakna. Kami berharap kolaborasi seperti ini bisa berlanjut agar anak tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga kreator di era digital.”— Mr. Zen Muhammad Alfaruq, Ketua Panitia Seminar Parenting, SD Intis School Yogyakarta Bagi Neon Bit, kolaborasi ini sejalan dengan misi memperkenalkan literasi teknologi sejak dini dengan cara yang relevan bagi anak Indonesia. “Masalah utama bukan pada durasi penggunaan gadget, melainkan bagaimana gadget digunakan. Ketika anak memanfaatkan teknologi untuk membuat animasi atau game sederhana, teknologi menjadi sarana mengembangkan logika dan problem solving. Pengenalan coding sejak dini bukan untuk menjadikan anak ahli teknologi dalam waktu singkat, melainkan membangun pola pikir yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Ke depan, Neon Bit berkomitmen memperluas program serupa ke lebih banyak sekolah agar makin banyak anak mendapat fondasi berpikir komputasional sejak usia dini.”— Debby, Program Advisor, Neon Bit Kegiatan ini hadir di tengah penguatan literasi digital pada pendidikan dasar di Indonesia. Pemerintah melalui Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 telah mengarahkan pengenalan coding dan kecerdasan artifisial sebagai bagian dari pembelajaran sekolah. Dalam konteks ini, format unplugged learning menjadi pintu masuk yang ramah anak  memperkenalkan logika komputasional tanpa ketergantungan pada perangkat, sebelum anak beranjak ke praktik coding berbasis layar. Sebagai lembaga pendidikan Coding & AI di bawah naungan Neutron Yogyakarta, Neon Bit terus menghadirkan program yang menyesuaikan jenjang usia anak 4–18 tahun. Kolaborasi dengan SD Intis School Yogyakarta menjadi bagian dari upaya memperluas akses pembelajaran teknologi sejak dini, khususnya di lingkungan sekolah dasar. Informasi lebih lanjut mengenai program kelas coding anak dapat diakses melalui website Neon Bit Kelas Coding Anak. Tentang SD Intis School Yogyakarta SD Intis School Yogyakarta merupakan institusi pendidikan yang berkomitmen menghadirkan pembelajaran holistik melalui kolaborasi aktif antara sekolah, siswa, dan keluarga, dengan fokus pada pengembangan karakter, kreativitas, dan kompetensi masa depan. Tentang Neon Bit Neon Bit adalah lembaga pendidikan Coding & AI di bawah naungan Neutron Yogyakarta yang membimbing anak usia 4–18 tahun mengembangkan keterampilan teknologi, kreativitas, dan problem solving melalui pembelajaran berbasis proyek yang interaktif dan relevan dengan kebutuhan masa depan.

Apakah Sertifikat Coding Anak itu Penting untuk Masa Depan?

Apakah Sertifikat Coding Anak itu Penting untuk Masa Depan?

Era informasi saat ini telah berubah jauh dari era sebelumnya. Saat ini, hampir semua orang dapat memproduksi dan menyebarkan informasi tertentu ke publik. Kebebasan seperti ini bukanlah tanpa masalah sama sekali. Informasi yang telah tersebar ke publik belum tentu dapat dijamin kebenarannya. Perkembangan teknologi AI (Artificial Intelligence) yang semakin menggila menjadikan kebenaran suatu informasi sulit untuk diverifikasi. Oleh sebab itulah, kemampuan literasi digital sangat penting untuk ditingkatkan, tidak terkecuali untuk anak-anak. Salah satu cara terbaik untuk meningkatkan kemampuan ini adalah mengikutsertakan anak dalam kursus coding. Setelah kursus selesai, anak bisa mendapatkan sertifikat coding. Apa Saja Manfaat Sertifikat Coding untuk Anak? Secara garis besar, manfaat sertifikat coding untuk anak kurang lebih sama dengan sertifikat keahlian yang dimiliki orang tua. Dengan sertifikat keahlian, peluang kamu untuk diterima kerja di tempat yang lebih bergengsi terbuka lebar. Baca Juga: Apa Saja Manfaat Coding untuk Anak? Kredibilitas dan kompetensi kerja kamu sudah diakui oleh pihak yang memang kompeten di bidangnya. Manfaat seperti inilah yang kurang lebih akan dirasakan oleh anak ketika berhasil mendapatkan sertifikat codingnya. Agar lebih jelas, di dalam artikel ini admin akan menjelaskan lebih lengkap tentang manfaat sertifikat coding untuk anak. Penasaran? Silakan simak baik-baik artikel ini ya! Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak Manfaat sertifikat coding untuk anak yang pertama, adalah jelas mampu meningkatkan kepercayaan diri. Mereka jadi tidak lagi minder dengan kemampuan codingnya karena sertifikat yang dimiliki. Selain karena dukungan orang tua, sertifikat coding ini menjadi bukti nyata akan keahlian coding anak setelah melewati masa-masa kursus yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Validasi Keahlian yang Diakui Manfaat sertifikat coding untuk anak yang kedua, adalah keahlian coding mereka yang sudah divalidasi oleh pihak yang ahli dan kompeten. Pengakuan seperti ini tentu saja jauh lebih bernilai ketimbang pengakuan yang didapatkan dari orang tua. Anak akan merasa ikut ambil bagian dalam lingkungan orang-orang yang ahli coding. Anak bisa dengan mudah berbaur dalam berbagai komunitas coding karena pengalamannya yang sudah diakui oleh ahli. Memudahkan Anak untuk Masuk Komunitas Coding Berikutnya adalah memudahkan anak untuk masuk komunitas coding tertentu. Perlu orang tua ketahui, ada banyak komunitas coding yang merancang persyaratan khusus untuk seseorang yang menjadi anggotanya. Salah satunya adalah anggota yang wajib memiliki sertifikat coding tertentu. Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada komunitas coding yang menerima anggota tanpa sertifikat. Menjadi Nilai Tambah Sebelum Mendaftar ke Sekolah Favorit Selanjutnya adalah sertifikat coding yang dapat menjadi nilai tambah untuk anak sebelum mendaftar ke sekolah favorit. Sertifikat kursus coding ini dapat digunakan untuk mendaftar ke sekolah kejuruan (SMK), politeknik, atau program beasiswa maupun pelatihan kerja. Tentu saja tidak semua sekolah atau politeknik menjadikan sertifikat coding sebagai nilai tambah. Sebagai orang tua, kamu harus mempelajari detail apa saja syarat utama dan tambahan sebelum mendaftarkan anak ke sekolah tertentu. Menambah Nilai Portofolio Anak Sertifikat coding yang telah didapatkan, dapat anak gunakan sebagai nilai tambah dari portofolio. Sertifikat ini jadi pertanda kuat bahwa memiliki minat yang kuat dalam bidang teknologi sejak dini. Apabila anak memiliki nilai yang bagus dalam mata pelajaran seperti Matematika atau Informatika, plus dilengkapi dengan sertifikat kursus coding, besar peluangnya untuk diterima dalam program beasiswa pendidikan teknologi. Menjadi Nilai Tambah dalam Dokumen Lamaran Pekerjaan Manfaat sertifikat coding untuk anak yang terakhir adalah dapat menjadi nilai tambah dalam dokumen lamaran pekerjaan. Ya, untuk kamu yang sekarang duduk di bangku SMA/SMK sederajat, sertifikat kursus coding ini dapat memperbesar peluang diterima kerja dengan cepat. Baca Juga: Pertanyaan yang Wajib Ditanyakan Sebelum Daftar Kursus Coding Terlebih lagi jika bahasa pemrograman yang dipelajari selama kursus sesuai dengan kebutuhan industri kerja terbaru. Oleh sebab itu, penting bagi orang tua mengetahui kurikulum coding dari lembaga kursus terpilih. FAQ Seputar Sertifikat Coding Anak 1. Apakah sertifikat coding anak benar-benar penting untuk masa depan? Ya. Sertifikat coding dapat menjadi bukti nyata bahwa anak memiliki kemampuan dan minat yang kuat di bidang teknologi. Sertifikat yang didapatkan dapat menjadi nilai tambah saat mendaftar sekolah favorit, program beasiswa, maupun pekerjaan tertentu di masa depan. 2. Mengapa kemampuan coding sangat penting untuk dipelajari anak-anak? Anak yang mempelajari coding tidak hanya belajar tentang teknologi secara umum. Dalam coding, anak akan dilatih untuk berpikir logis, kreativitas, dan problem solving. 3. Apakah semua kursus coding dapat memberikan manfaat yang sama untuk anak? Tentu saja tidak. Hanya lembaga kursus coding yang memiliki kurikulum terstandar, mentor ahli dan berpengalaman, serta fasilitas yang lengkap yang dapat memberikan manfaat belajar coding secara maksimal. Kesimpulan Inilah penjelasan lengkap tentang manfaat sertifikat coding untuk anak. Secara garis besar, sertifikat coding ini dapat membantu anak lebih mudah menemukan minat dan bakatnya dalam bidang teknologi. Peluang diterima beasiswa atau pekerjaan yang berhubungan dengan teknologi, terbuka lebar. Apabila kamu berminat mendaftarkan anaknya ke Program Kursus Coding untuk Anak, Neon Bit adalah rekomendasi terbaik. Neon Bit sudah bekerja sama dengan banyak lembaga pendidikan ternama seperti Neutron Yogyakarta, IONs, Archimedes Academy, Integral Offset, dan lain-lain. Silakan daftar anak segera melalui program trial class gratis, atau konsultasi terlebih dahulu melalui nomor WhatsApp admin di 62 858‑2318‑65